Kutuliskan curahan hatiku yang
pertama dalam gelar kertas pada layar ini. Ya..... kisah yang selama ini sudah
cukup memenuhi ruang dalam hidupku. Kisah yang telah menyatukan dua kata “kamu
dan aku” menjadi satu kata yaitu “kita”. Kita yang bersatu, ntah kapan awalnya,
kita yang bersatu dengan harapan kita akan bersau selamanya, tak hanya di dunia
ini saja, tetapi dalam surga Nya. Namun itu hanyalah sebuah harapanku, aku yang
terlalu berharap menjadi ratu dalam istanamu. Aku yang selalu berharap, aku
yang kan selalu membahagiakanmu dengan sikap manjaku. Dan aku yang selalu
berharap, aku lah bidadari surgamu.
Ya...itulah khayalanku. Aku yang
berkhayal bahwa kelak hanya akulah yang akan memilikimu. Bahwa aku lah kelak
yang akan menjadi bunda dari anak-anak kita. Dan kisah yang selama ini aku
damba dan impikan hanyalah akan menjadi sebuah fiktif yang tak pernah menjadi
sebuah kenyataan. Karena ego kita, karena kita terlalu egois. Kita belum bisa
menyatukan dua keinginan kita, padahal sebelumnya kita telah berhasil
menyatukan kata “aku dan kamu”. Keberhasilan kita di awal, ternyata tak akan
pernah lagi membuahkan keberhasilan kita yang kedua untuk menyatukan hati kita
dalam sebuah kehalalan.
Andai saat itu engkaupun paham
keinginanku, pasti tak akan pernah kata “kita” akan tercerai berai menjadi “aku
dan kamu” kembali. Mungkin aku juga yang salah saat itu, namun aku rasa apa
yang aku inginkan saat itu adalah yang terbaik. Namun lagi-lagi keinginanku
adalah sebuah kesalahan besar bagimu.
Tapi dengan ini aku bisa
memahami, bagaimana sifatmu. Yah.....engkau yang mementingkan sebuah prinsip.
Dan aku tak pernah menyalahkan itu. Karena kita diberi kebebasan untuk tetap
memperjuangkannya sesuai dengan maksud dan keinginan kita masing-masing.
Kamu....
hanya akan tetap menjadi kamu, dan aku hanya akan tetap menjadi aku. “aku dan kamu” tak akan pernah menjadi “kita”, meskipun aku memaksapun, tak akan pernah itu terjadi.
hanya akan tetap menjadi kamu, dan aku hanya akan tetap menjadi aku. “aku dan kamu” tak akan pernah menjadi “kita”, meskipun aku memaksapun, tak akan pernah itu terjadi.
Komentar
Posting Komentar