Rasa ini, membuatku ingin terus bertahan,
Pada khayal indah menyatunya kita,
Rasa ini.......
Semakin ku harap hilang, semakin jua ia menancap tajam dalam pori-pori hatiku,
Semakin ku harap hilang, semakin jua ia menancap tajam dalam pori-pori hatiku,
Khayalan ini bukan hanya sebuah harapan,
Namun khayalan ini adalah cita yang aku dambakan,
Akankah aku bisa meraihmu duhai khayalan?
Ntahlah......
Karena ku rasa....
Aku bukan mentari, yang bisa membuat terang hidupmu,
Aku bukan pelangi, yang bisa mewarnai langkahmu,
Aku bukan bintang sebagai pembuat harapan-harapanmu,
Aku terpaku, pada keraguanku,
Aku lunglai dalam kebingunganku,
Aku terdiam, dalam menunggu jawab istikharahku,
Diam bertumpu dalam keresahanku,
Aku memang payah...
bersikap lembut pada hati yang kian terhanyut,
bersikap lembut pada hati yang kian terhanyut,
Aku memang payah,
Hanya bisa menyalahkan masa yang telah lalu,
Meskipun ku coba marah pada kalbuku,
Meski kupukulkan rotan pada hatiku,
Tetap saja,
Rasa itu semakin tumbuh subur, bak kembang desember di musimnya...
Padahal, tiap waktu mereka berbisik dalam ketidaksamaan,
Akan ada pagi, dan akan ada petang,
Akan ada hujan dan akan ada malam,
Semua bergelayut, mengakar kokoh dalam otakku,
Aku lelah, aku jenuh,
Ingin ku tertidur tanpa bayang ketidakpastian,
Tapi bisakah ia lenyap begitu saja?
Kubiarkan wajahku bertumpu pada asaku,
Hingga jawaban itu menyambutku.

Komentar
Posting Komentar