Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Harapan

  Senjaku kembali merah merona Kala jendela hatiku berhasil kau ketuk Pelan tapi penuh makna, memancarkan sinyal-sinyal kebahagiaan Kau kembangkan sayap-sayap cinta, pada hati yang terluka Kau terbangkan secercah harapan, tentang hadirnya kisah di hari tua Jalan ini terhampar panjang, namun ingin kutapaki hanya bersamamu Menjemput haru di hari bahagia Rasa ini … pernah ingin kuhempaskan Tapi akhirnya rindu kian menderu, menggelisahkan Mengalirkan bulir-bulir embun pada wajah senduku Hanya doa yang bisa kupanjatkan Agar takdir menyatukan hati kita dalam untaian kisah nyata

Thropy Impian

Matahari mengintip di balik pepohonan rindang, semilir angin berhembus pelan membawa hawa sejuk. Hari ini hari Minggu, entah mengapa aku malas untuk mandi pagi seperti biasanya. Toh, aku belum sekolah juga.   Seperti biasa, bapak dan ibuku bersiap-siap untuk pergi ke ladang. Sebenarnya aku malas untuk ikut, hanya saja kalau di rumah aku juga tidak ada kegiatan yang pasti. Paling hanya nyanyi-nyanyi sambil mainan boneka. Aku bosan juga. Akhirnya aku ikut bapak dan ibu ke ladang. Lagipula sambil nunggu orang tuaku selesai memanen kacang dan jagung, aku bisa bermain di rumah budeku. Anaknya bude kan punya mainan banyak, ada piano, boneka, alat-alat masak, dan yang lainnya. Pasti aku tidak cepat bosan. Aku mengikuti langkah bapak dan ibu, di jalanan aspal masih tersisa genangan air sisa hujan tadi malam. Ku tenteng tas jinjing berisi gelas dan gula dengan hati-hati. Kalau sampai jatuh dan gelasnya pecah, ibuku bisa marah-marah. Kami berjalan melewati pematang sawah yang cukup lebar, ...

Sajak Senja

                                                                          Karya: Nevita Nur Kholivah   Aku bilang senja adalah sebuah kehilangan Karena harapku selalu musnah saat jingga menjelma Kosong, tak berbekas   Aku bilang senja adalah sebuah kehilangan Karena penantianku semakin panjang Sunyi, tanpa balas   Aku bilang senja adalah sebuah kehilangan Karena aku terpaku, sendiri, tanpa arah Menopang dagu tanpa jawab   Aku bilang senja adalah sebuah kehilangan Karena rinduku hanya diam membisu Tanpa ada yang mau peduli   Aku bilang senja adalah sebuah kehilangan Burung terbang menjauh Tanpa mau membawa sedikit salam   Aku bilang senja adalah sebuah kehilangan Angin membasuh lembut Tanpa mau ku titip surat   Aku bil...

Cinta dalam Diam

  Wajahmu membuatku kembali termenung Namun bayangmu mengaktifkan denyut nadiku Berdegub, mengguncangkan seluruh ragaku Senyummu membuat rona merah di pipiku Sapamu mengobarkan anganku yang kian meredup Engkau adalah kejora di setiap sudut hatiku Penuh gemerlap, menerangi hati yang terlanjur gelap Ingin ku rengkuh hatimu, Tapi rasa ini tak mampu kulafalkan Lidahku kelu, gairahku runtuh Kala setengah hatiku teringat akan sebuah batas sebelum terucapnya ikrar suci Biarkanlah Sang Maha Cinta yang tahu bahwa aku menginginkanmu Mengikatmu dalam sebuah ikatan cinta penuh ridho-Nya

Biarkan

  Karya Nevita Nur Kholivah   Biarkan aku menulis, Karena kata tak mampu ungkapkan segala makna Biarkan aku menulis, Karena sentuhan tak mampu luapkan segala rasa Biarkan aku menulis, Karena telinga tak hanya cukup mendengar Biarkan aku menulis, Mengeja setiap huruf dengan jeda Biarkan aku menulis, Karena hanya jari yang mampu bicara Tuhan.. Ijinkan aku menulis, Karena hati penuh sesak, tak mampu menyimpan cita

Pinangan

  Karya Nevita Nur Kholivah   Mataku menerawang jauh Jari jemari kaku, sedang jiwa mengaduh Menyesali waktu yang telah runtuh menjadi abu Inginku terbangun … Namun mentari terlanjur menjauh Gelap, pengap, hampa … Inginku meraung, namun lidahku kelu Inginku berlari, namun kau renggut jiwaku paksa Kau tarik, perlahan …. perlahan… Dan akhirnya aku pasrah Bulir embun serasa menetes, di saat muara tak lagi sisakan air Segenap doa tak lagi luluhkan keputusan-Mu Tuhanku … kini ku sampai pada ridho-Nya

Meraih Mimpi

  Kala sang fajar melaju di langit biru Dingin menusuk alunan sang bayu Kakiku melangkah kian menderu Menuju kampus-kampus ilmu Meskipun napas memburu Semangatku tak akan pernah menjadi abu Kusulam benang mimpiku Kusimpul mati asaku Semoga Allah mengabulkan barisan doaku Menggapai cita menjadi guru

Tunjuk Satu Bintang

  Karya Nevita Nur Kholivah   Gelap malam pancarkan kesunyian Redupkan harap yang kian menepi Aku terduduk, merenung Ku bangun memori masa kecilku Saat hasrat menggebu Melaju menuju pengharapanku Samar-samar kulihat Gemerlip bintang berhamburan di angkasa raya Ku tunjuk satu, kusematkan di hatiku Agar kelak menjadi cita-cita nyataku

Teruntuk Mas Menteri Nadiem Makarim

    Mas Menteri, Sejak merebaknya virus corona di bumi ini, kotaku sunyi. Masyarakat berdiam diri mengunci bilik. Bukan karena tak mau beramah tamah, namun demi menjaga sanak saudara agar tidak terjamah virus tersebut.   Mas Menteri, Sekolah sebagai ladang pahalaku pun ikut membisu. Suara riuh murid-murid kini tak terdengar. Hilir mudik aktivitas murid-murid tak lagi nampak. Bangunan kokoh itu hanya berdiri tegak merasakan pilu dalam kesunyian. Kini riuh tawa mereka berganti riuh dering gawai. Pertanda mereka aktif mengikuti KBM secara daring. Terkadang aku merasa jenuh, menanti jawaban dari tugas sang murid. Susah sinyal, minim kuota, dan tidak memiliki gawai menjadi alasan utama mereka. Tapi tak mengapa, aku bisa memaklumi. Rasanya ini tak cukup menghapus rindu untuk bersua seperti di dalam kelas. Aku masih rindu suara tawa saat kita asyik dalam dekapan ilmu.   Mas Menteri Masjid di desa semakin sunyi. Ramadhan semakin mencekam. Bahkan suara adzan...

Cinta dari Terbiasa

  Pagi ini langit tak bisa kuajak kompromi, wajahnya muram, seperti kanak-kanak menggelayut manja ke bundanya, karena meminta permen. Akhirnya peluhnya tumpah ruah, membanjiri dua pipi chubbynya . Sama halnya dengan langit tadi, mendung menggelayut. Aku pun jadi malas ingin berangkat ke sekolah, karena ribet, harus pakai mantol, bawa dua kaos kaki, sepatu, baju ganti. Membayangkannya pun rasanya aku tidak mau. Tasku sudah berat dengan laptop, ditambah lagi harus membawa segala macam bawaan yang bisa jadi mubazir . Bisa kupakai bisa tidak, yang ada mereka hanya keenakan kuayu-ayun dari rumah hingga sekolah. Lumayan kan 13 km, bisa bobok syantik sejenak berselimut tas. Ah… lantas kupikir buat apa aku iri dengan mereka? Benda mati yang dimanfaatkan oleh manusia, lebih baik manusia yang bisa bermanfaat dengan sesamanya. Terbayang wajah satu per satu anak didikku, dengan senyum sumringah mereka akan mengatakan, “yeyyyyy…. Jam kosong, mari kita tidur berjamaah.” Atau “Ayo main bas...

Negeriku Sunyi

    Kini lihatlah Negeriku sunyi, membisu penuh kekhawatiran Berdiam diri, mengunci bilik rapat-rapat Jalanan lengang, adzan masjid terdengar parau Ramadhan pun tak lagi merdu oleh riuh suara tadarusan Berganti nyanyian pilu mengantar sanak ke pembaringan Sadarlah, mungkin Allah sedang menunjukkan kasih sayang-Nya Agar kita semakin merunduk khusyu’ dalam dekapan-Nya Corona, selamat atas kejayaanmu Ku nanti kepergianmu penuh rasa suka cita

Rindu Terlarang

  Sakit ini kupendam, kala rintik hujan menari liar di atas rerumputan Sesak kurasa, menghimpit kalbu yang kian menciut Ingin kuhempaskan, ku lepas pelan.. Setiap rasa yang kupendam, sendiri.. Dan kurasa kau tak akan pernah peduli Rasa ini begitu kuat, mengakar pada hati yang semakin memerah jambu Tak bisa aku goyahkan meski hanya sementara Ku tahu, rasamu hanya milikmu Ku tahu, hatimu juga hanya milikmu Sedang kurasa, rasa ini tetap milikmu Hati ini tetap terpaku padamu Mungkin angin yang mau peduli Menghembuskan pelan rasa ini Untukmu yang kini tak lagi di hadapanku

Duri di Penjara Suci

  Aku ingin berubah, berubah menjadi lebih baik, lebih taat, dan tentunya lebih sholihah. Bukan hanya di mata ibu dan bapak, tapi juga untuk Sang Khalik yang telah bermurah hati membangunkan mataku saat aku terbuai dalam mimpi yang melenakan. Aku ingin berubah, tidak hanya berubah dalam kedipan mata, tetapi berubah ke dalam kehidupan yang lebih baik dari sekarang. Aku ingin berubah, menapaki jalan hidupku dengan penuh berkah. Aku ingin berubah, meniti dunia dengan jalan yang diridhoi oleh Sang Pencipta. Tring. Bunyi pesan masuk di gawaiku mengejutkanku dari aktivitas menyalami tamu. Saat itu di rumahku sedang berlangsung sebuah hajatan. Pesan tersebut masih kuabaikan beberapa menit. Setelah kurasa tamu sepi, aku pun kembali duduk. Ku ambil gawai di saku gamisku, dan aku pun mulai membaca pesan tersebut. “Assalamu’alaikum wr wb, berdasarkan hasil tes seleksi calon karyawan di SMPIT, Anda dinyatakan diterima. Untuk itu, hari Senin, 11 Juli 2011 silakan datang ke sekolah. Terima...

Anakku Permataku

  Waktu semakin mengusik telinga Lisan berayun-ayun, bergerombol menghakimiku Sedih, ada luka membekas, tapi tak ku balas Kini tibalah saatnya, Keringatku berpacu dengan perut yang keroncongan Meraung-raung menunggu Sang Permata abadi Aku merintih, darah berdesir, air mengalir Sementara hati berbinar, tak sabar merengkuh permataku Sakit, tapi tak sesakit lisan yang bergelayut dalam ingatan Hanya bias-bias senyum, dihiasi tangis haru Ya… sayup-sayup ku dengar suara itu melengking hebat Meriuhkan suasana ruangan yang sempit, sunyi Permataku kini ku dekap, hangat Suara adzan dan iqamah beradu di telinga kanan dan kiri Ya Allah, Alhamdulillah… Sempurna sudah penantianku.   Aku adalah seorang karyawan swasta yang bekerja di salah satu SMP swasta di Kota Gaplek, Wonogiri. Bermodalkan ijazah SMK jurusan akutansi, aku mendapat pekerjaan di bagian Tata Usaha sekolah ini. Ya… bagian administrasi dan operator sekolah yang belum pernah aku pelajari. Nam...