Langsung ke konten utama

Biarkan

 


Karya Nevita Nur Kholivah

 

Biarkan aku menulis,

Karena kata tak mampu ungkapkan segala makna

Biarkan aku menulis,

Karena sentuhan tak mampu luapkan segala rasa

Biarkan aku menulis,

Karena telinga tak hanya cukup mendengar

Biarkan aku menulis,

Mengeja setiap huruf dengan jeda

Biarkan aku menulis,

Karena hanya jari yang mampu bicara

Tuhan..

Ijinkan aku menulis,

Karena hati penuh sesak, tak mampu menyimpan cita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelangi dalam Bayang Hitam

Rasa ini, membuatku ingin terus bertahan, Pada khayal indah menyatunya kita, Rasa ini....... Semakin ku harap hilang, semakin jua ia menancap tajam dalam pori-pori hatiku, Khayalan ini bukan hanya sebuah harapan, Namun khayalan ini adalah cita yang aku dambakan, Akankah aku bisa meraihmu duhai khayalan? Ntahlah...... Karena ku rasa.... Aku bukan mentari, yang bisa membuat terang hidupmu, Aku bukan pelangi, yang bisa mewarnai langkahmu, Aku bukan bintang sebagai pembuat harapan-harapanmu, Aku terpaku, pada keraguanku, Aku lunglai dalam kebingunganku, Aku terdiam, dalam menunggu jawab istikharahku, Diam bertumpu dalam keresahanku, Aku memang payah... bersikap lembut pada hati yang kian terhanyut, Aku memang payah, Hanya bisa menyalahkan masa yang telah lalu, Meskipun ku coba marah pada kalbuku, Meski kupukulkan rotan pada hatiku, Tetap saja, Rasa itu semakin tumbuh subur, bak kembang desember di musimnya... Padahal, tiap waktu mereka b...

Aku, Kamu dan Kita

Kutuliskan curahan hatiku yang pertama dalam gelar kertas pada layar ini. Ya..... kisah yang selama ini sudah cukup memenuhi ruang dalam hidupku. Kisah yang telah menyatukan dua kata “kamu dan aku” menjadi satu kata yaitu “kita”. Kita yang bersatu, ntah kapan awalnya, kita yang bersatu dengan harapan kita akan bersau selamanya, tak hanya di dunia ini saja, tetapi dalam surga Nya. Namun itu hanyalah sebuah harapanku, aku yang terlalu berharap menjadi ratu dalam istanamu. Aku yang selalu berharap, aku yang kan selalu membahagiakanmu dengan sikap manjaku. Dan aku yang selalu berharap, aku lah bidadari surgamu. Ya...itulah khayalanku. Aku yang berkhayal bahwa kelak hanya akulah yang akan memilikimu. Bahwa aku lah kelak yang akan menjadi bunda dari anak-anak kita. Dan kisah yang selama ini aku damba dan impikan hanyalah akan menjadi sebuah fiktif yang tak pernah menjadi sebuah kenyataan. Karena ego kita, karena kita terlalu egois. Kita belum bisa menyatukan dua keinginan kita, padaha...

Aku Tahu

Aku tahu, jika pada akhirnya bukan cintalah yang menyatukan, Aku juga tahu, jika pada akhirnya bukan hatilah yang menentukan, Aku tahu, jika pada akhirnya takdir yang menyambut kita, ntah baik kah? atau malah membuat hati semakin menangis? Ya.... karena sejatinya cinta adalah sesuatu yang menyenangkan namun begitu juga menyakitkan. Cinta juga merupakan suatu penghubung antara bahagia dan nestapa. Cinta juga merajut suka dan duka. Cinta juga menyatukan bahagia dan luka. Namun bukan kita yang merajut, bukankah jua kita yang menghubugkan, kita hanyalah subyek, kita adalah aktor yang berperan dalam sandiwara-sandiwara kehidupan, dan engkaupun tahu hal itu, engkau paham jika kita tak bisa memaksa cinta, engkau paham bahwa kita saat ini hanyalah bermain peran, dan yang menentukan kita adalah dia sang Dhalang yang Bijaksana.