Pagi ini langit tak
bisa kuajak kompromi, wajahnya muram, seperti kanak-kanak menggelayut manja ke
bundanya, karena meminta permen. Akhirnya peluhnya tumpah ruah, membanjiri dua
pipi chubbynya. Sama halnya dengan
langit tadi, mendung menggelayut. Aku pun jadi malas ingin berangkat ke
sekolah, karena ribet, harus pakai mantol, bawa dua kaos kaki, sepatu, baju
ganti. Membayangkannya pun rasanya aku tidak mau. Tasku sudah berat dengan
laptop, ditambah lagi harus membawa segala macam bawaan yang bisa jadi mubazir. Bisa kupakai bisa tidak, yang
ada mereka hanya keenakan kuayu-ayun dari rumah hingga sekolah. Lumayan kan 13
km, bisa bobok syantik sejenak
berselimut tas. Ah… lantas kupikir buat apa aku iri dengan mereka? Benda mati
yang dimanfaatkan oleh manusia, lebih baik manusia yang bisa bermanfaat dengan
sesamanya.
Terbayang wajah satu
per satu anak didikku, dengan senyum sumringah mereka akan mengatakan,
“yeyyyyy…. Jam kosong, mari kita tidur berjamaah.” Atau “Ayo main basket di
halaman sambil hujan-hujanan…” dan itu bisa mengganggu ketenteraman kelas lain.
Aku harus berangkat. Mana mungkin aku membiarkan mereka tanpa sarapan ilmu
dariku pagi ini? Bisa jadi aku akan dipanggil guru makan gaji buta, yang masuk
kelas hanya saat memerlukannya saja, misal ulangan, atau monev. Aku bukan guru seperti itu, apalagi aku mengemban amanah
yang berat dari orang tua mereka, juga amanah yang berat dari bangsa ini.
Karena negara bisa kuat, jika memiliki pemuda yang hebat. Dan menjadi guru,
juga tidak hanya mimpiku, tetapi mimpi kedua orang tuaku. Terutama ibuku,
beliau sampai meneteskan air mata, saat aku beri tahu, jika aku telah diangkat
menjadi seorang guru. Aku terharu.
Di tengah perjalanan,
hujan tak mau berhenti meski hanya semenit pun. Mereka tetap menghujani tubuhku
dengan tikaman-tikaman tajam darinya. Ku lihat sandalku sudah basah, dan itu
berarti kaos kakipun sudah basah kuyup. Aku sempat mengomel di dalam hati, “Ya
Allah, kok hujan di saat aku ada jam megajar?” Tetapi aku segera istighfar, karena jika tidak hujan, mana
mungkin tanah akan basah? Mana mungkin padi akan menguning? Mana mungkin petani
akan tersenyum bahagia di hari panennya? Aku tidak boleh egois, mengajarkan
ilmu adalah hal utama dari yang lainnya, bahkan dari hal mengasuh anak
sekalipun. Hiks..hiks..(Aku sedih, karena anakku yang masih balita harus aku
tinggal di rumah). Jika memang dibutuhkan untuk dunia pendidikan, mengapa harus
tidak siap?
Lima belas menit
berlalu, tak masalah terlambat lima menit. Pasti mereka akan memaklumi. Aku
bergegas ke kamar mandi, mengganti bajuku dan juga kaos kaki. Ku ambil buku dan
administrasi mengajarku, dan aku segera berlari menuju kelas. Untung kelasnya
hanya ada di atas gedung kantorku, jadi lumayan tidak terciprat air hujan lagi.
Suasana kelas hening.
Benar yang kuduga, lima belas menit kosong pelajaran, mereka gunakan untuk
tidur. Ada beberapa yang masih asik menulis PR mata pelajaran lain, atau hanya
sekedar membuka-buka buku paket pelajaran Bahasa Indonesia. Dan itupun aku
wajib bersyukur dan berterimakasih. Paling tidak mereka tidak berkeliaran di
luar kelas. Sambil melangkahkan kaki ke dalam kelas aku mengucap salam.
“Assalamu’alaikum
anak-anak… Wah… apa ini, Nak? Bocor ya gentengnya?”
“Wa’alaikumsalam
warohmatullahi wabarakatuh, iya Ustadah. Bocor Us?”
“Wah, mengapa tidak
di pel dulu? Sudah lapor ke wali kelas?”
“Hehe….. belum Us.”
Ketua kelas menjawab dengan tertawa geli.
“Lain kali di lap dulu ya, Alhamdulillah tadi Ustadah
tidak terpeleset. Kalau sampai terpeleset kalian pasti akan tertawa geli, kan?”
Anak-anak menyambut
dengan tawa riuh. Suasana agak sedikit gaduh. Kelas 8B berisi 26 siswa
laki-laki. Memang butuh energi yang luar biasa untuk membangkitkan mood mereka. Kalau tidak diselingi
dengan gurauan, bisa jadi kelas akan terbuai di alam mimpi. Maklum suaraku yag
lembut mampu meninabobokkan mereka. Tapi tidak, ini jam pertama, mereka tentu
masih fresh.
Kebetulan materi hari
ini adalah membuat puisi dengan sajak aaaa. Setelah kusampaikan ada beberapa
anak yang tersenyum, ada pula sebagian yang cemberut dan mengeluh. “Puisi
lagi…puisi lagi”. Tapi tak mengapa, keluhan mereka tak akan menyiutkan
semangatku untuk terus melanjutkan pelajaran ini. Ku bagikan kertas HVS untuk
masing-masing anak, kuminta mereka untuk menuliskan nama, nomor absen, dan
kelas. Ada anak yang menulis di mejanya, ada juga yang ndlosor di dekat meja guru, ada juga yang mengerjakan di teras,
sambil menikmati angin sepoi-sepoi sisa hujan beberapa waktu lalu.
Satu jam pelajaran berlalu,
aku menanyakan tugas yang kusampaikan tadi. Mungkin saja ada yang sudah selesai
mengerjakan, tapi ternyata belum ada satupun. Lima belas menit kemudian ku tanya
lagi, ternyata belum ada juga yang selesai. Hingga 10 menit jam kedua akan
berakhir, baru ada lima siswa yang mengumpulkan. Ada dari mereka yang
mengatakan membuat puisi itu susah, susah karena harus berimajinasi dan
menerawang hal yang bisa jadi kita pernah melakukan ataupun belum melakukan.
Ada juga yang bilang menulis puisi itu sulit karena harus menciptakan ide,
padahal mencari ide pun juga sulit. Dan yang lebih membuatku geli, ada satu
siswa yang hanya mengumpulkan selembar kertas kosong. Dia bilang aku bukan
orang yang romantis, bukan tukang gombal juga, jadi aku tidak menulis puisi.
Padahal puisi-puisi ini nanti akan aku seleksi dan ku ketik untuk kujadikan
buku antologi puisi. Kusampaikan ideku kepada anak-anak, dan akhirnya anak yang
tadi tidak mau menulis puisi dia mau mengalah, mau mencoba lagi, bagaimanapun
hasilnya.
Saat ini buku
antologi puisi anak-anak Al Huda kelas 8 sudah selesai diketik. Tinggal
menyisipkan kata pengantar, dan proses cetak. Semoga hal ini bisa menjadi
kejutan di awal tahun ajaran baru. Bisa menjadi pecutan semangat untuk menulis.
Bisa menjadi motivator mereka untuk terus membaca dan belajar tentunya. Bisa
menjadi hadiah untuk mereka yang sudah berusaha untuk membuahkan karya. Dan
tentunya bisa untuk bahan bacaan adik kelasnya.
Komentar
Posting Komentar