Langsung ke konten utama

Cinta dari Terbiasa


 

Pagi ini langit tak bisa kuajak kompromi, wajahnya muram, seperti kanak-kanak menggelayut manja ke bundanya, karena meminta permen. Akhirnya peluhnya tumpah ruah, membanjiri dua pipi chubbynya. Sama halnya dengan langit tadi, mendung menggelayut. Aku pun jadi malas ingin berangkat ke sekolah, karena ribet, harus pakai mantol, bawa dua kaos kaki, sepatu, baju ganti. Membayangkannya pun rasanya aku tidak mau. Tasku sudah berat dengan laptop, ditambah lagi harus membawa segala macam bawaan yang bisa jadi mubazir. Bisa kupakai bisa tidak, yang ada mereka hanya keenakan kuayu-ayun dari rumah hingga sekolah. Lumayan kan 13 km, bisa bobok syantik sejenak berselimut tas. Ah… lantas kupikir buat apa aku iri dengan mereka? Benda mati yang dimanfaatkan oleh manusia, lebih baik manusia yang bisa bermanfaat dengan sesamanya.

Terbayang wajah satu per satu anak didikku, dengan senyum sumringah mereka akan mengatakan, “yeyyyyy…. Jam kosong, mari kita tidur berjamaah.” Atau “Ayo main basket di halaman sambil hujan-hujanan…” dan itu bisa mengganggu ketenteraman kelas lain. Aku harus berangkat. Mana mungkin aku membiarkan mereka tanpa sarapan ilmu dariku pagi ini? Bisa jadi aku akan dipanggil guru makan gaji buta, yang masuk kelas hanya saat memerlukannya saja, misal ulangan, atau monev. Aku bukan guru seperti itu, apalagi aku mengemban amanah yang berat dari orang tua mereka, juga amanah yang berat dari bangsa ini. Karena negara bisa kuat, jika memiliki pemuda yang hebat. Dan menjadi guru, juga tidak hanya mimpiku, tetapi mimpi kedua orang tuaku. Terutama ibuku, beliau sampai meneteskan air mata, saat aku beri tahu, jika aku telah diangkat menjadi seorang guru. Aku terharu.

Di tengah perjalanan, hujan tak mau berhenti meski hanya semenit pun. Mereka tetap menghujani tubuhku dengan tikaman-tikaman tajam darinya. Ku lihat sandalku sudah basah, dan itu berarti kaos kakipun sudah basah kuyup. Aku sempat mengomel di dalam hati, “Ya Allah, kok hujan di saat aku ada jam megajar?” Tetapi aku segera istighfar, karena jika tidak hujan, mana mungkin tanah akan basah? Mana mungkin padi akan menguning? Mana mungkin petani akan tersenyum bahagia di hari panennya? Aku tidak boleh egois, mengajarkan ilmu adalah hal utama dari yang lainnya, bahkan dari hal mengasuh anak sekalipun. Hiks..hiks..(Aku sedih, karena anakku yang masih balita harus aku tinggal di rumah). Jika memang dibutuhkan untuk dunia pendidikan, mengapa harus tidak siap?

Lima belas menit berlalu, tak masalah terlambat lima menit. Pasti mereka akan memaklumi. Aku bergegas ke kamar mandi, mengganti bajuku dan juga kaos kaki. Ku ambil buku dan administrasi mengajarku, dan aku segera berlari menuju kelas. Untung kelasnya hanya ada di atas gedung kantorku, jadi lumayan tidak terciprat air hujan lagi.

Suasana kelas hening. Benar yang kuduga, lima belas menit kosong pelajaran, mereka gunakan untuk tidur. Ada beberapa yang masih asik menulis PR mata pelajaran lain, atau hanya sekedar membuka-buka buku paket pelajaran Bahasa Indonesia. Dan itupun aku wajib bersyukur dan berterimakasih. Paling tidak mereka tidak berkeliaran di luar kelas. Sambil melangkahkan kaki ke dalam kelas aku mengucap salam.

“Assalamu’alaikum anak-anak… Wah… apa ini, Nak? Bocor ya gentengnya?”

“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh, iya Ustadah. Bocor Us?”

“Wah, mengapa tidak di pel dulu? Sudah lapor ke wali kelas?”

“Hehe….. belum Us.” Ketua kelas menjawab dengan tertawa geli.

“Lain kali di lap dulu ya, Alhamdulillah tadi Ustadah tidak terpeleset. Kalau sampai terpeleset kalian pasti akan tertawa geli, kan?”

Anak-anak menyambut dengan tawa riuh. Suasana agak sedikit gaduh. Kelas 8B berisi 26 siswa laki-laki. Memang butuh energi yang luar biasa untuk membangkitkan mood mereka. Kalau tidak diselingi dengan gurauan, bisa jadi kelas akan terbuai di alam mimpi. Maklum suaraku yag lembut mampu meninabobokkan mereka. Tapi tidak, ini jam pertama, mereka tentu masih fresh.

Kebetulan materi hari ini adalah membuat puisi dengan sajak aaaa. Setelah kusampaikan ada beberapa anak yang tersenyum, ada pula sebagian yang cemberut dan mengeluh. “Puisi lagi…puisi lagi”. Tapi tak mengapa, keluhan mereka tak akan menyiutkan semangatku untuk terus melanjutkan pelajaran ini. Ku bagikan kertas HVS untuk masing-masing anak, kuminta mereka untuk menuliskan nama, nomor absen, dan kelas. Ada anak yang menulis di mejanya, ada juga yang ndlosor di dekat meja guru, ada juga yang mengerjakan di teras, sambil menikmati angin sepoi-sepoi sisa hujan beberapa waktu lalu.

Satu jam pelajaran berlalu, aku menanyakan tugas yang kusampaikan tadi. Mungkin saja ada yang sudah selesai mengerjakan, tapi ternyata belum ada satupun. Lima belas menit kemudian ku tanya lagi, ternyata belum ada juga yang selesai. Hingga 10 menit jam kedua akan berakhir, baru ada lima siswa yang mengumpulkan. Ada dari mereka yang mengatakan membuat puisi itu susah, susah karena harus berimajinasi dan menerawang hal yang bisa jadi kita pernah melakukan ataupun belum melakukan. Ada juga yang bilang menulis puisi itu sulit karena harus menciptakan ide, padahal mencari ide pun juga sulit. Dan yang lebih membuatku geli, ada satu siswa yang hanya mengumpulkan selembar kertas kosong. Dia bilang aku bukan orang yang romantis, bukan tukang gombal juga, jadi aku tidak menulis puisi. Padahal puisi-puisi ini nanti akan aku seleksi dan ku ketik untuk kujadikan buku antologi puisi. Kusampaikan ideku kepada anak-anak, dan akhirnya anak yang tadi tidak mau menulis puisi dia mau mengalah, mau mencoba lagi, bagaimanapun hasilnya.

Saat ini buku antologi puisi anak-anak Al Huda kelas 8 sudah selesai diketik. Tinggal menyisipkan kata pengantar, dan proses cetak. Semoga hal ini bisa menjadi kejutan di awal tahun ajaran baru. Bisa menjadi pecutan semangat untuk menulis. Bisa menjadi motivator mereka untuk terus membaca dan belajar tentunya. Bisa menjadi hadiah untuk mereka yang sudah berusaha untuk membuahkan karya. Dan tentunya bisa untuk bahan bacaan adik kelasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelangi dalam Bayang Hitam

Rasa ini, membuatku ingin terus bertahan, Pada khayal indah menyatunya kita, Rasa ini....... Semakin ku harap hilang, semakin jua ia menancap tajam dalam pori-pori hatiku, Khayalan ini bukan hanya sebuah harapan, Namun khayalan ini adalah cita yang aku dambakan, Akankah aku bisa meraihmu duhai khayalan? Ntahlah...... Karena ku rasa.... Aku bukan mentari, yang bisa membuat terang hidupmu, Aku bukan pelangi, yang bisa mewarnai langkahmu, Aku bukan bintang sebagai pembuat harapan-harapanmu, Aku terpaku, pada keraguanku, Aku lunglai dalam kebingunganku, Aku terdiam, dalam menunggu jawab istikharahku, Diam bertumpu dalam keresahanku, Aku memang payah... bersikap lembut pada hati yang kian terhanyut, Aku memang payah, Hanya bisa menyalahkan masa yang telah lalu, Meskipun ku coba marah pada kalbuku, Meski kupukulkan rotan pada hatiku, Tetap saja, Rasa itu semakin tumbuh subur, bak kembang desember di musimnya... Padahal, tiap waktu mereka b...

Aku, Kamu dan Kita

Kutuliskan curahan hatiku yang pertama dalam gelar kertas pada layar ini. Ya..... kisah yang selama ini sudah cukup memenuhi ruang dalam hidupku. Kisah yang telah menyatukan dua kata “kamu dan aku” menjadi satu kata yaitu “kita”. Kita yang bersatu, ntah kapan awalnya, kita yang bersatu dengan harapan kita akan bersau selamanya, tak hanya di dunia ini saja, tetapi dalam surga Nya. Namun itu hanyalah sebuah harapanku, aku yang terlalu berharap menjadi ratu dalam istanamu. Aku yang selalu berharap, aku yang kan selalu membahagiakanmu dengan sikap manjaku. Dan aku yang selalu berharap, aku lah bidadari surgamu. Ya...itulah khayalanku. Aku yang berkhayal bahwa kelak hanya akulah yang akan memilikimu. Bahwa aku lah kelak yang akan menjadi bunda dari anak-anak kita. Dan kisah yang selama ini aku damba dan impikan hanyalah akan menjadi sebuah fiktif yang tak pernah menjadi sebuah kenyataan. Karena ego kita, karena kita terlalu egois. Kita belum bisa menyatukan dua keinginan kita, padaha...

Aku Tahu

Aku tahu, jika pada akhirnya bukan cintalah yang menyatukan, Aku juga tahu, jika pada akhirnya bukan hatilah yang menentukan, Aku tahu, jika pada akhirnya takdir yang menyambut kita, ntah baik kah? atau malah membuat hati semakin menangis? Ya.... karena sejatinya cinta adalah sesuatu yang menyenangkan namun begitu juga menyakitkan. Cinta juga merupakan suatu penghubung antara bahagia dan nestapa. Cinta juga merajut suka dan duka. Cinta juga menyatukan bahagia dan luka. Namun bukan kita yang merajut, bukankah jua kita yang menghubugkan, kita hanyalah subyek, kita adalah aktor yang berperan dalam sandiwara-sandiwara kehidupan, dan engkaupun tahu hal itu, engkau paham jika kita tak bisa memaksa cinta, engkau paham bahwa kita saat ini hanyalah bermain peran, dan yang menentukan kita adalah dia sang Dhalang yang Bijaksana.