Mas Menteri,
Sejak merebaknya virus corona di bumi ini, kotaku
sunyi. Masyarakat berdiam diri mengunci bilik. Bukan karena tak mau beramah
tamah, namun demi menjaga sanak saudara agar tidak terjamah virus tersebut.
Mas Menteri,
Sekolah sebagai ladang pahalaku pun ikut membisu.
Suara riuh murid-murid kini tak terdengar. Hilir mudik aktivitas murid-murid
tak lagi nampak. Bangunan kokoh itu hanya berdiri tegak merasakan pilu dalam
kesunyian. Kini riuh tawa mereka berganti riuh dering gawai. Pertanda mereka
aktif mengikuti KBM secara daring. Terkadang aku merasa jenuh, menanti jawaban dari
tugas sang murid. Susah sinyal, minim kuota, dan tidak memiliki gawai menjadi
alasan utama mereka. Tapi tak mengapa, aku bisa memaklumi. Rasanya ini tak
cukup menghapus rindu untuk bersua seperti di dalam kelas. Aku masih rindu
suara tawa saat kita asyik dalam dekapan ilmu.
Mas Menteri
Masjid di desa semakin sunyi. Ramadhan semakin
mencekam. Bahkan suara adzan terdengar parau. Lihatlah, santri-santri TPQ ku hanya termenung di
rumah. Menyaksikan masjid yang berdiri megah tak bisa dijamah setiap hari Senin
dan Kamis. Kegiatan Belajar Mengajar TPQ pun tak bisa dilaksanakan secara
daring. Kita memahami, mereka telah disibukkan oleh tugas-tugas sekolah yang
kian memburu. Tarawihpun terbatasi oleh lebarnya jarak. Ramadhanku sunyi, merdu
tilawah Al Qur’an tak lagi terdengar melalui corong-corong masjid.
Mas Nadiem,
Di penghujung Ramadhan ini, aku berharap kita tidak
hanya meraih kemenangan akan kembalinya kesucian hati. Tetapi juga meraih
kemenangan atas usainya pandemi ini. Agar kita bisa merayakan Idul Fitri tanpa
penuh kekhawatiran. Berjumpa sanak saudara dengan penuh suka cita.
Terimakasih.
Komentar
Posting Komentar