Langsung ke konten utama

Teruntuk Mas Menteri Nadiem Makarim

 


 

Mas Menteri,

Sejak merebaknya virus corona di bumi ini, kotaku sunyi. Masyarakat berdiam diri mengunci bilik. Bukan karena tak mau beramah tamah, namun demi menjaga sanak saudara agar tidak terjamah virus tersebut.

 

Mas Menteri,

Sekolah sebagai ladang pahalaku pun ikut membisu. Suara riuh murid-murid kini tak terdengar. Hilir mudik aktivitas murid-murid tak lagi nampak. Bangunan kokoh itu hanya berdiri tegak merasakan pilu dalam kesunyian. Kini riuh tawa mereka berganti riuh dering gawai. Pertanda mereka aktif mengikuti KBM secara daring. Terkadang aku merasa jenuh, menanti jawaban dari tugas sang murid. Susah sinyal, minim kuota, dan tidak memiliki gawai menjadi alasan utama mereka. Tapi tak mengapa, aku bisa memaklumi. Rasanya ini tak cukup menghapus rindu untuk bersua seperti di dalam kelas. Aku masih rindu suara tawa saat kita asyik dalam dekapan ilmu.

 

Mas Menteri

Masjid di desa semakin sunyi. Ramadhan semakin mencekam. Bahkan suara adzan terdengar parau. Lihatlah,  santri-santri TPQ ku hanya termenung di rumah. Menyaksikan masjid yang berdiri megah tak bisa dijamah setiap hari Senin dan Kamis. Kegiatan Belajar Mengajar TPQ pun tak bisa dilaksanakan secara daring. Kita memahami, mereka telah disibukkan oleh tugas-tugas sekolah yang kian memburu. Tarawihpun terbatasi oleh lebarnya jarak. Ramadhanku sunyi, merdu tilawah Al Qur’an tak lagi terdengar melalui corong-corong masjid.

 

Mas Nadiem,

Di penghujung Ramadhan ini, aku berharap kita tidak hanya meraih kemenangan akan kembalinya kesucian hati. Tetapi juga meraih kemenangan atas usainya pandemi ini. Agar kita bisa merayakan Idul Fitri tanpa penuh kekhawatiran. Berjumpa sanak saudara dengan penuh suka cita.

 

Terimakasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelangi dalam Bayang Hitam

Rasa ini, membuatku ingin terus bertahan, Pada khayal indah menyatunya kita, Rasa ini....... Semakin ku harap hilang, semakin jua ia menancap tajam dalam pori-pori hatiku, Khayalan ini bukan hanya sebuah harapan, Namun khayalan ini adalah cita yang aku dambakan, Akankah aku bisa meraihmu duhai khayalan? Ntahlah...... Karena ku rasa.... Aku bukan mentari, yang bisa membuat terang hidupmu, Aku bukan pelangi, yang bisa mewarnai langkahmu, Aku bukan bintang sebagai pembuat harapan-harapanmu, Aku terpaku, pada keraguanku, Aku lunglai dalam kebingunganku, Aku terdiam, dalam menunggu jawab istikharahku, Diam bertumpu dalam keresahanku, Aku memang payah... bersikap lembut pada hati yang kian terhanyut, Aku memang payah, Hanya bisa menyalahkan masa yang telah lalu, Meskipun ku coba marah pada kalbuku, Meski kupukulkan rotan pada hatiku, Tetap saja, Rasa itu semakin tumbuh subur, bak kembang desember di musimnya... Padahal, tiap waktu mereka b...

Aku, Kamu dan Kita

Kutuliskan curahan hatiku yang pertama dalam gelar kertas pada layar ini. Ya..... kisah yang selama ini sudah cukup memenuhi ruang dalam hidupku. Kisah yang telah menyatukan dua kata “kamu dan aku” menjadi satu kata yaitu “kita”. Kita yang bersatu, ntah kapan awalnya, kita yang bersatu dengan harapan kita akan bersau selamanya, tak hanya di dunia ini saja, tetapi dalam surga Nya. Namun itu hanyalah sebuah harapanku, aku yang terlalu berharap menjadi ratu dalam istanamu. Aku yang selalu berharap, aku yang kan selalu membahagiakanmu dengan sikap manjaku. Dan aku yang selalu berharap, aku lah bidadari surgamu. Ya...itulah khayalanku. Aku yang berkhayal bahwa kelak hanya akulah yang akan memilikimu. Bahwa aku lah kelak yang akan menjadi bunda dari anak-anak kita. Dan kisah yang selama ini aku damba dan impikan hanyalah akan menjadi sebuah fiktif yang tak pernah menjadi sebuah kenyataan. Karena ego kita, karena kita terlalu egois. Kita belum bisa menyatukan dua keinginan kita, padaha...

Aku Tahu

Aku tahu, jika pada akhirnya bukan cintalah yang menyatukan, Aku juga tahu, jika pada akhirnya bukan hatilah yang menentukan, Aku tahu, jika pada akhirnya takdir yang menyambut kita, ntah baik kah? atau malah membuat hati semakin menangis? Ya.... karena sejatinya cinta adalah sesuatu yang menyenangkan namun begitu juga menyakitkan. Cinta juga merupakan suatu penghubung antara bahagia dan nestapa. Cinta juga merajut suka dan duka. Cinta juga menyatukan bahagia dan luka. Namun bukan kita yang merajut, bukankah jua kita yang menghubugkan, kita hanyalah subyek, kita adalah aktor yang berperan dalam sandiwara-sandiwara kehidupan, dan engkaupun tahu hal itu, engkau paham jika kita tak bisa memaksa cinta, engkau paham bahwa kita saat ini hanyalah bermain peran, dan yang menentukan kita adalah dia sang Dhalang yang Bijaksana.