Langsung ke konten utama

Anakku Permataku

 


Waktu semakin mengusik telinga

Lisan berayun-ayun, bergerombol menghakimiku

Sedih, ada luka membekas, tapi tak ku balas

Kini tibalah saatnya,

Keringatku berpacu dengan perut yang keroncongan

Meraung-raung menunggu Sang Permata abadi

Aku merintih, darah berdesir, air mengalir

Sementara hati berbinar, tak sabar merengkuh permataku

Sakit, tapi tak sesakit lisan yang bergelayut dalam ingatan

Hanya bias-bias senyum, dihiasi tangis haru

Ya… sayup-sayup ku dengar suara itu melengking hebat

Meriuhkan suasana ruangan yang sempit, sunyi

Permataku kini ku dekap, hangat

Suara adzan dan iqamah beradu di telinga kanan dan kiri

Ya Allah, Alhamdulillah…

Sempurna sudah penantianku.

 

Aku adalah seorang karyawan swasta yang bekerja di salah satu SMP swasta di Kota Gaplek, Wonogiri. Bermodalkan ijazah SMK jurusan akutansi, aku mendapat pekerjaan di bagian Tata Usaha sekolah ini. Ya… bagian administrasi dan operator sekolah yang belum pernah aku pelajari. Namun tak apalah, berkali-kali kuucapkan alhamdulillah setelah lolos dalam seleksi perekrutan karyawan yang berlangsung di tahun 2010. Alhamdulillah, karena aku sudah bekerja kembali. Sebelumnya sudah dua daerah kujajali untuk mengadu nasib, tetapi tidak pernah berakhir bahagia, selalu kata tidak betah yang terucap. Entahlah….aku putri satu-satunya dari dua bersaudara, ayahku adalah seorang penjual bakso keliling di kota Sukabumi, hanya satu bulan sekali pulang, mengunjungi ibuku. Sementara adikku masih duduk di kelas satu SMP. Banyaknya kegiatan adikku di sekolah membuat ibuku sering dilanda rindu. Ibu sering memikirkan anak gadisnya yang merantau jauh di negeri orang (meskipun masih satu pulau sih.. pulau Jawa). Dan mungkin itu juga yang membuat aku merasa tak betah dan ingin kembali pulang.

Pekerjaan di sebuah daerah yang bisa dekat dengan ibu, ternyata tidak cukup merekahkan senyum ibuku. Sekarang aku memang dekat, tetapi aku tidak bisa selalu dekat dengan beliau, karena aku harus menginap di tempat kerjaku yang baru, bekerja ganda sebagai musyrifah di pondok. SMP tempatku bekerja memang mewajibkan santri-santrinya untuk boarding di pondok pesantren yang juga masih satu lokasi dengan SMP ini. Ah…. tidak masalah, aku masih bisa mengunjungi ibuku seminggu sekali, semoga bias-bias senyum di wajah ibuku kembali merekah.

Sudah lima tahun sudah aku mengabdi di sekolah ini. Hari-hari kujalani dengan senyum sumringah. Ada banyak rintangan dalam menghadapi tangisan anak dan tangisan wali murid tentunya. Namun itu tidak menyurutkan langkahku untuk terus mengabdi disini. Lagipula menjadi seorang ibu adalah cita-cita setiap wanita. Aku adalah seorang ibu dari setiap anak-anak yang tidak terlahir dari rahimku. Saat pagi datang, aku bekerja di SMP dan ketika sore tiba aku mulai mengasuh mereka, mendampingi mereka. Dari mulai membantu belajar, membantu merapikan tempat tidur, isi lemari, hingga membuat mereka lupa akan rumahnya, bahkan lupa dengan orang tua mereka, agar mereka bisa nyaman tinggal di asrama, tanpa merengek ingin pindah sekolah. Tugasku memang sama seperti tugas-tugas ibu pada umumnya. Anggap saja ini adalah jalan untuk berlatih menjadi seorang ibu ketika aku sudah menikah nanti.

Ada rasa lelah menjalar di tubuh ini, tetapi tekatku sudah bulat. Aku harus kuat dan menamatkan sekolahku sampai sarjana. Ya…melalui sekolah ini, aku bisa kuliah di salah satu universitas di kota Sukoharjo. Alhamdulillah, tahun ini sudah masuk semester lima. Bahagia rasanya bisa melanjutkan sekolah tanpa harus menambah beban orang tua. Ku sisihkan setiap kafalah tiap bulannya, agar aku bisa membayar iuran semester di kampus. Setiap rasa lelah bergelayut manja dalam tubuh ini, selalu ku bisikkan sebuah kekuatan. “lelah yang disertai Lillah pasti akan menimbulkan sebuah hikmah di masa yang akan datang.” Aku harus kuat demi anak-anakku yang disini. Senyum mereka, tingkah lucu mereka, gurauan mereka, keusilan mereka adalah cambuk semangatku untuk tetap bertahan disini. Buat apa aku jauh-jauh berlayar di negeri seberang jikalau disini aku menemukan kedamaian? Ada anak-anak yang bisa menjadi obat mujarab rasa lelah, rasa marah, dan juga saat mengalami perih. Ada sahabat-sahabat yang selalu mengingatkan disaat aku futur. Ada banyak rekan kerja yang selalu memotivasiku untuk terus maju menuju masa depan yang lebih baik. Lingkaran islami inilah yang kudambakan sejak dahulu. Lingkungan kerja yang kondusif, mana mungkin aku tinggalkan?

Lima tahun bukan hal yang singkat aku berlayar di tempat ini. Banyak sekali kejadian luar biasa yang mendewasakanku. Dan ini tidak akan pernah aku lupakan. Hingga di akhir liburan Syawal, cerita perpisahan ini dimulai. Seseorang melamarku, tepat di tanggal 1 Syawal. Setiap ustadah yang sudah menikah, harus rela meninggalkan pondok  karena ada kewajiban yang lebih utama, yaitu mengurus suami. Sama halnya aku nanti, ketika aku sudah menikah, tentu suasana rumah tak akan seriuh suasana di asrama pondok. Ingin rasanya membatalkan, tetapi menikah adalah impianku, apalagi saat ini usiaku sudah memasuki usia 23 tahun. Bukankah di usia seperti ini adalah usia yang sudah cukup matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga?

 

****

                Tahun ini menginjak dua tahun pernikahan kami. Belum ada tanda-tanda kehamilan di dalam rahimku. Sementara tetangga-tetangga sudah riuh menanyakan kapan aku hamil. Banyak sekali pertanyaan yang mereka sampaikan, semua pertanyaan itu seakan menyudutkanku. Apalagi mertua dan orang tuaku juga menginginkan untuk segera menimang cucu. Lagi-lagi kata “santai” menjadi jawaban yang mujarab untuk menjawab semua pertanyaan mereka. “InsyaAllah, kalau Allah sudah percaya kita mampu, pasti Allah akan memberikan amanah itu.” Itu adalah kata-kata penguat saat aku menangis di bahu suamiku.

                Bulan Juli tahun 2017 di desaku sedang ramai musim hajatan. Kebetulan di sebelah timur rumahku juga sedang mengadakan hajatan syukuran atas kelahiran anaknya, biasanya orang-orang baik satu desa maupun tetangga desa akan berduyun-duyun datang merayakan kebahagiaan itu dengan membawa amplop ataupun sembako. Sama halnya tetangga yang lain, aku pun juga ikut rewang di rumah tersebut. Aku ikut membantu menjinjing tas berisi sembako yang dibawa oleh tamu undangan menuju dapur umum, biasanya berisi beras.

                “Lek, aku kok belum haid ya?” tanyaku pada lek Yuni di sela-sela istirahatku.

                “Jangan-jangan kamu hamil? Istirahat saja, tidak perlu bantu-bantu.” Jawab lek Yuni

                Akhirnya aku putuskan untuk beristirahat di rumah, rebahan sebentar. Pelan-pelan ku seka keringatku. Aku pun berpikir kemungkinan aku hamil, karena ini sudah telat satu minggu. Ku ambil satu box test pack di dalam almari hadiah pernikahan dari teman suamiku. Tidak ada salahnya aku pastikan kehamilanku ini. Setelah aku cek , dua garis muncul, Alhamdulillah terucap dari bibirku. Setelah dua tahun menunggu, akhirnya penantianku terjawab sudah.

                Orang bilang aku ngebo, karena selama hamil aku jarang merasakan mual, pusing, ataupun muntah. Aku pun masih melaksanakan aktivitas seperti biasa, nyapu, nyuci, masak, kerja. Apalagi di sekolah tahun ini aku diamanahi double job, operator sekolah dan juga mengajar di kelas. Perlu ekstra hati-hati dalam menjaga kehamilan ini. Tidak boleh capek, tidak boleh banyak pikiran, dan tidak boleh stress. Namun itu semua hanyalah angan-angan, di tengah perjalanan selama aku mengandung, tentu banyak masalah-masalah yang cukup menguras energi. Terutama permasalahan operator sekolah. Ada beberapa guru di sekolah yang belum valid di info GTK. Hingga akhirnya muncul banyak pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang sangat menggemaskan, padahal aku sudah mengerjakan tugasku sesuai dengan prosedur. Sebenarnya permasalahan ini begitu sederhana, server pusat belum bisa menyimpan data keseluruhan, jadi perlu ada proses, sehingga ada keterlambatan dalam memvalidkan data.

                Permasalahan-permasalahan dalam pekerjaan yang cukup menggelitik pikiran ternyata tidak menyurutkan semangatku untuk terus berjuang di dunia pendidikan ini. Alhamdulillah selama Sembilan bulan mengandung, tidak ada hal serius dalam kehamilan ini. Akhirnya tanggal 27 Februari 2018, lahirlah putra kami yang pertama. Bayi mungil dengan berat badan 2,7 kg dan panjang badan 49 cm. Berwajah ganteng, mirip abinya. Alhamdulillah ya Allah, Engkau berikan nikmat yang tiada terkira dalam kehidupanku. Bayi mungil nan lincah ini kuberi nama Raiis Taajuddiin Shaalih, karena kita berharap kelak jundi ini menjadi pemimpin yang kaya (kaya hati, kaya iman dan kaya harta), menjadi seorang yang sholih dan juga bisa mensholihkan orang lain, serta menjadi mahkota bagi agamanya. Aamiin

                Menjadi mamah muda, tentu sangat menguras energi, sedikit-sedikit bangun malam untuk menyusui, belum lagi dengan pekerjaan rumah yang lain. Namun ini tetap harus aku nikmati, karena ini adalah sebuah ladang pahala bagiku, bekalku menuju surga Allah nantinya. InsyaAllah. Sama seperti namanya, Raiis kecil adalah anak yang ceria, umur satu bulan dia sudah bisa merespon senyum dari orang yang ada di dekatnya. Bahagia sekali rasanya, dua bulan bisa membersamai anak pertama kami di rumah.

                Usia tiga bulan Raiis kecil sudah bisa tengkurap. Aku sering menyimpan momen-momen pertumbuhan Raiis, baik dalam bentuk gambar maupun video. Foto tengkurap, foto tersenyum, foto saat dia duduk, bahkan foto saat dia bertingkah menggemaskan. Video-video tentang suara-suara Raiis kecil pun sekarang masih tersimpan rapi di memori hp maupun laptopku. Dan sama halnya dengan mamah muda lainnya, aku tak pernah absen untuk mengupload beberapa foto maupun video yang aku simpan di galeri HPku.

                Ada perubahan besar ketika aku sudah menjadi seorang ibu. Aku yang dahulu adalah seorang yang mengisi waktu luangnya untuk nonton berbagai film, namun setelah jadi ibu aku sering mengisi waktu kosongku untuk membaca berbagai pedoman tentang mendidik anak laki-laki, atau juga resep-resep membuat mpAsi. Aku sudah jarang lagi melirik baju-baju sejenis gamis ataupun jilbab, namun aku lebih suka membeli barang-barang kebutuhan Raiis, misalnya baju, kaos kaki, topi, dan mainan. Hampir setiap bulannya aku membelikan sesuatu untuk Raiis. Ini bukanlah sebuah keborosan ya, namun ini adalah wujud kebahagiaanku karena  Allah memberikan amanah ini, di saat yang lain masih menunggu amanah yang luar biasa ini.

                Raiis kecil tidak terlalu rewel dan jam tidurnya pun tidak begitu larut. Sehingga aku masih bisa meluangkan waktuku untuk menyelesaikan skripsiku di sela-sela tidur malamnya. Karena aku masih seorang mahasiswa. Jika dirasakan memang lelah, harus mengurus bayi, menyelesaikan skripsi, kerja, dan tentunya bola-balik ke kampus untuk melakukan bimbingan skripsi. Aku harus semangat, jika aku cepat wisuda, tentunya pasti waktuku akan lebih lama bersama anakku tercinta. Berkat dorongan dan bantuan dari suami tercinta, akhirnya tanggal 28 Oktober 2018 aku bisa ikut wisuda. Alhamdulillah.

                Sekarang Raiis kecil sudah tumbuh menjadi bayi dewasa. Mengapa aku sebut bayi dewasa? Karena di usianya yang masih belia, dia memiliki tingkah laku seperti orang yang lebih dewasa. Usianya sekarang sudah memasuki usia 22 bulan, giginya sudah tumbuh hampir sempurna, tingginya sudah 82 cm dengan berat badan 11 kg. Raiis tumbuh menjadi anak yang periang, dia tidak pernah terlihat murung, selalu saja tersenyum dan tertawa. Tingkah lakunya pun menggemaskan. Saat petang tiba, dia selalu meminta untuk menonton TV, dia bilang “ngaji mi”. Ngaji disini bukan mendengarkan ceramah, ataupun tayangan yang berisi murotal Al Qur’an misalnya di TV Rojja ataupun Fatwa, tetapi ngaji disini adalah ia ingin mendengarkan adzan. Dari awal abinya sudah membahasakan ke Raiis, kalau adzan itu termasuk ngaji, namun yang diingat Raiis hanya kata terakhirnya saja, yaitu ngaji. Sampai saat inipun ketika dia sudah bosan melihat kartun, dia pasti selalu minta diganti chanel yang ada ngajinya. Meski itu di siang bolong sekalipun dia tetap minta ngaji, padahal di TV tidak ada stasiun TV yang menayangkan adzan di siang hari.

                Awalnya aku kesal juga, karena setiap waktu Raiis selalu minta ngaji. Aku tayangkan acara ceramah dia tidak mau, acara murotal dia juga tidak mau, acara kartun dia tidak mau. Aku beri pemahaman ke Raiis kalau murotal itu juga disebut ngaji, tapi anak seusian 22 bulan belum terlalu paham dengan apa yang aku jabarkan. Dan disaat kekesalanku memuncak, alhamdulillah ada tayangan lagu Indonesia Raya, tangisannya langsung berhenti seketika.

                Ada sebuah kesalahan dalam aku mendidik Raiis. Dari usia 14 bulan Raiis sudah sering aku perlihatkan video di youtube melalui HPku. Itu aku lakukan agar aku bisa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, mengasuh anak juga bisa melakukan aktivitas lain. Namun hal itu menjadi sebuah boomerang, setiap lihat HP Raiis selalu meminta aku untuk memperlihatkan video youtube di HP. Raiis suka dengan video ikan, jadi ada beberapa video yang sengaja kusimpan, video ikan, video lagu Indonesia Raya, video Nusa dan Rara, dan juga video murotal Qur’an disertai animasi, harapanku Raiis nanti bisa cepat hapal Al Qur’an dan menjadi seorang hafidz.

                Aku tahu apa yang aku lakukan ini akan berkaibat buruk untuk Raiis, selain radiasi HP yang tidak baik, juga akibat kecanduannya ini yang kadang membuatku kesal juga. Akhirnya aku dan suami sepakat untuk tidak menggunakan HP saat sedang bersama Raiis. Juga kita menayangkan film, lagu-lagu anak, dan juga adzan yang sudah kita simpan di flasdisk melalui TV.  Entah aku lupa namanya apa. Alhamdulillah, dengan cara tersebut sedikit demi sedikit Raiis sudah agak lupa dengan HP, asalkan HP tidak tergeletak di tempat yang bisa dijangkau Raiis. Kalau sampai ketahuan Raiis tempat persembunyian HP, wahh…sangat bahaya.

                Dulu saat Raiis masih di dalam kandungan, aku selalu menyelipkan doa, salah satunya agar anakku menjadi anak yang aktif, dan itu terbukti sekarang. Raiis adalah balita yang super aktif, aku sendiri sangat was-was saat harus meninggalkan dia sebentar saja, dia bisa naik kursi, naik mobil-mobilan bahkan sampai memanjat lemari plastik tempat menyimpan baju-bajunya. Pernah suatu ketika, saat aku sedang mencuci piring, kubiarkan Raiis menonton film Nusa dan Rara di TV. Tiba-tiba dia sudah berada di depan tungku yang di dalamnya masih ada bara api bekas memasak tadi pagi. Dia bilang “bakal-bakalan” artinya kebakaran. Spontan aku langsung menarik dia, takut nanti terjadi hal-hal lain yang bisa membahayakan keselamatan anak tercintaku. Entah ini salah atau tidak, memang saat aku sedang menyuapinya sambal jalan-jalan di depan rumah, kalau ada yang membakar tumpukan sampah, aku bilang ke Raiis, itu namanya kebakaran, ada apinya yang menyala. Langsung deh, aku nyanyikan lagu Api Kita Sudah Menyala ala-ala anak pramuka, Raiis pun tambah girang dan lahap makannya. Alhamdulillah suara emaknya ini empuk, seempuk buah tomat, jadi Raiis pun ikut-ikutan nyanyi juga. Intinya Raiis tidak boleh terlalu lama lepas dari kepengawasan, karena di usianya yang masih belia dia belum paham benar, apakah ini atau itu aman baginya.

Anak tercintaku sudah bisa menyanyikan lagu Cicak-Cicak di Dinding, Topi Saya Bundar, Burung Kakak Tua, Hujan-Hujan Lagi dan juga sedikit syair pada lagu Indonesia Raya meski hanya kata akhir saja yang dia bisa. Tentunya dengan bahasa lirik yang masih belepotan, tetapi itu tetap luar biasa. Mungkin hobi menyanyi umminya turun ke anaknya hehe. Raiis kecilpun alhamdulillah sudah bisa menirukan surat Al Ikhlas dan hafal beberapa ayat dalam surat Al Fatihah. Beberapa waktu lalu, Raiis sedang demam, dan tiba-tiba dia melafalkan beberapa ayat dari surat Al Fatihah. Alhamdulillah, ini salah satu nikmat dari Allah yang wajib aku syukuri.

Semakin lama aku semakin dekat dengan Raiis. Sampai-sampai Raiis tidak mau jauh dari umminya, ummi lagi nyuci, ditariknya tangan ini agar mau menemani dia menonton TV, dia bilang “geyet”. Tak apalah, aku senang dengan keadaan ini, meskipun aku harus bisa sembunyi-sembunyi saat ingin berangkat kerja. Terkadang aku pernah khilaf memarahinya, disaat dia menangis aku langsung memeluk Raiis, karena pelukan seorang ibu bisa menenteramkan hati anak. Dan ini aku lakukan saat Raiis juga sedang tantrum. Kubiarkan dia berada dalam dekapanku, hingga dia berhenti menangis.

Saat di sekolah, ada keinginanku untuk cepat memutar jam dunia, agar aku bisa cepat kembali pulang untuk bertemu buah hatiku. Sayangnya aku tidak bisa. Sebagai seorang karyawan swasta, aku dituntut untuk berangkat sebelum pukul 7.00 dan pulang setelah pukul 15.00. Sekolahku memang berbeda dengan sekolah umum lainnya, karena ada mata pelajaran khusus yang ditambahkan pada jam pelajaran, contohnya Tahfidz, Qur’an Hadist, Fiqih, Shiroh, dan Bahasa Arab.

                Ada keinginan untuk mengasuh Raiis sendiri di rumah. Tetapi aku tidak bisa seperti ibu-ibu rumah tangga yang lain. Aku jenuh jika harus berdiam diri di rumah dan hanya mengasuh anak, aku masih ingin produktif. Aku juga tahu aku salah menitipkan Raiis pada orang tuaku, mengingat usia mereka yang semakin sepuh. Namun, aku juga tidak bisa lepas dari dunia pendidikan ini, keduanya merupakan ladang pahala yang harus aku tanami benih-benih yang bisa ku petik di akhirat nanti. InsyaAllah.

                Waktu-waktu bersama Raiis adalah hal yang membahagiakan untukku. Di saat aku sudah suntuk dengan pekerjaan kantor, sampai di rumah melihat senyum Raiis itu sudah membuat hatiku meleleh. Rasa lelah lenyap seketika. Seiring berjalannya waktu, emosiku yang labil juga sudah mulai bisa terkontrol, karena menemani Raiis di masa kecil hanya singkat, aku harus bisa membuat kenangan-kenangan bahagia di masa kecil Raiis. Juga tidak terlalu memanjakan dia, agar kelak dia bisa menjadi insan yang mandiri.

                Raiis adalah anugerah terindah dalam hidupku. Menantikan kehadirannya butuh waktu dua tahun. Kehadirannya mengajarkanku tentang begitu besarnya perjuangan menjadi seorang ibu mulai dari mengidam, mengandung, melahirkan, sampai mendidik hingga ia dewasa nanti. Kehadirannya mengajarkaanku tentang arti sebuah kesabaran. Kehadirannya mengajarkanku tentang makna keikhlasan. Kehadirannya mengajarkanku tentang sebuah ketulusan. Aku tak akan pernah menyia-nyiakan amanah ini, ini adalah hal yang sangat mulia. Satu pesanku untuk anakku Raiis, “Nak, jika engkau dewasa nanti, ingatlah kami orang tuamu, meski engkau berada di puncak kesuksesan. Senantiasa doakanlah kami, meski raga ini sudah hancur berbaur dengan tanah. Karena hanya tiga amalan yang masih bisa mengalir, jika kami telah meninggalkan dunia ini. Ilmu bermanfaat, amal jariyah, dan anak-anak yang sholih yang mau mendoakan kedua orang tuanya. Jika abi dan ummi tak lagi bisa mendekapmu, jadikan Allah tumpuan hidupmu. Engkau tak perlu takut, nak. Masih ada Allah sebagai pelindungmu. Abi dan ummi menyayangimu.”

                Raiis Taajuddiin Shaalih, seperti namamu, semoga engkau menjadi seorang pemimpin yang kaya namun tetap dermawan. Semoga engkau menjadi pejuang bagi agamamu. Semoga engkau menjadi pendakwah bagi umat. Semoga engkau menjadi anak yang sholih. Semoga engkau menjadi seorang hafidz yang mampu menyematkan mahkota di kepala ummi dan abi. Engkaulah harapan ummi dan abi. Qurrota a’yun bagi ummi dan abi. Engkaulah permata ummi dan abi.

 

Wonogiri, 6 Januari 2019.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelangi dalam Bayang Hitam

Rasa ini, membuatku ingin terus bertahan, Pada khayal indah menyatunya kita, Rasa ini....... Semakin ku harap hilang, semakin jua ia menancap tajam dalam pori-pori hatiku, Khayalan ini bukan hanya sebuah harapan, Namun khayalan ini adalah cita yang aku dambakan, Akankah aku bisa meraihmu duhai khayalan? Ntahlah...... Karena ku rasa.... Aku bukan mentari, yang bisa membuat terang hidupmu, Aku bukan pelangi, yang bisa mewarnai langkahmu, Aku bukan bintang sebagai pembuat harapan-harapanmu, Aku terpaku, pada keraguanku, Aku lunglai dalam kebingunganku, Aku terdiam, dalam menunggu jawab istikharahku, Diam bertumpu dalam keresahanku, Aku memang payah... bersikap lembut pada hati yang kian terhanyut, Aku memang payah, Hanya bisa menyalahkan masa yang telah lalu, Meskipun ku coba marah pada kalbuku, Meski kupukulkan rotan pada hatiku, Tetap saja, Rasa itu semakin tumbuh subur, bak kembang desember di musimnya... Padahal, tiap waktu mereka b...

Aku, Kamu dan Kita

Kutuliskan curahan hatiku yang pertama dalam gelar kertas pada layar ini. Ya..... kisah yang selama ini sudah cukup memenuhi ruang dalam hidupku. Kisah yang telah menyatukan dua kata “kamu dan aku” menjadi satu kata yaitu “kita”. Kita yang bersatu, ntah kapan awalnya, kita yang bersatu dengan harapan kita akan bersau selamanya, tak hanya di dunia ini saja, tetapi dalam surga Nya. Namun itu hanyalah sebuah harapanku, aku yang terlalu berharap menjadi ratu dalam istanamu. Aku yang selalu berharap, aku yang kan selalu membahagiakanmu dengan sikap manjaku. Dan aku yang selalu berharap, aku lah bidadari surgamu. Ya...itulah khayalanku. Aku yang berkhayal bahwa kelak hanya akulah yang akan memilikimu. Bahwa aku lah kelak yang akan menjadi bunda dari anak-anak kita. Dan kisah yang selama ini aku damba dan impikan hanyalah akan menjadi sebuah fiktif yang tak pernah menjadi sebuah kenyataan. Karena ego kita, karena kita terlalu egois. Kita belum bisa menyatukan dua keinginan kita, padaha...

Aku Tahu

Aku tahu, jika pada akhirnya bukan cintalah yang menyatukan, Aku juga tahu, jika pada akhirnya bukan hatilah yang menentukan, Aku tahu, jika pada akhirnya takdir yang menyambut kita, ntah baik kah? atau malah membuat hati semakin menangis? Ya.... karena sejatinya cinta adalah sesuatu yang menyenangkan namun begitu juga menyakitkan. Cinta juga merupakan suatu penghubung antara bahagia dan nestapa. Cinta juga merajut suka dan duka. Cinta juga menyatukan bahagia dan luka. Namun bukan kita yang merajut, bukankah jua kita yang menghubugkan, kita hanyalah subyek, kita adalah aktor yang berperan dalam sandiwara-sandiwara kehidupan, dan engkaupun tahu hal itu, engkau paham jika kita tak bisa memaksa cinta, engkau paham bahwa kita saat ini hanyalah bermain peran, dan yang menentukan kita adalah dia sang Dhalang yang Bijaksana.