Waktu
semakin mengusik telinga
Lisan
berayun-ayun, bergerombol menghakimiku
Sedih,
ada luka membekas, tapi tak ku balas
Kini
tibalah saatnya,
Keringatku
berpacu dengan perut yang keroncongan
Meraung-raung
menunggu Sang Permata abadi
Aku
merintih, darah berdesir, air mengalir
Sementara
hati berbinar, tak sabar merengkuh permataku
Sakit,
tapi tak sesakit lisan yang bergelayut dalam ingatan
Hanya
bias-bias senyum, dihiasi tangis haru
Ya…
sayup-sayup ku dengar suara itu melengking hebat
Meriuhkan
suasana ruangan yang sempit, sunyi
Permataku
kini ku dekap, hangat
Suara
adzan dan iqamah beradu di telinga kanan dan kiri
Ya
Allah, Alhamdulillah…
Sempurna
sudah penantianku.
Aku
adalah seorang karyawan swasta yang bekerja di salah satu SMP swasta di Kota Gaplek,
Wonogiri. Bermodalkan ijazah SMK jurusan akutansi, aku mendapat pekerjaan di
bagian Tata Usaha sekolah ini. Ya… bagian administrasi dan operator sekolah
yang belum pernah aku pelajari. Namun tak apalah, berkali-kali kuucapkan
alhamdulillah setelah lolos dalam seleksi perekrutan karyawan yang berlangsung
di tahun 2010. Alhamdulillah, karena aku sudah bekerja kembali. Sebelumnya
sudah dua daerah kujajali untuk mengadu nasib, tetapi tidak pernah berakhir
bahagia, selalu kata tidak betah yang terucap. Entahlah….aku putri satu-satunya
dari dua bersaudara, ayahku adalah seorang penjual bakso keliling di kota
Sukabumi, hanya satu bulan sekali pulang, mengunjungi ibuku. Sementara adikku
masih duduk di kelas satu SMP. Banyaknya kegiatan adikku di sekolah membuat
ibuku sering dilanda rindu. Ibu sering memikirkan anak gadisnya yang merantau
jauh di negeri orang (meskipun masih satu pulau sih.. pulau Jawa). Dan mungkin
itu juga yang membuat aku merasa tak betah dan ingin kembali pulang.
Pekerjaan
di sebuah daerah yang bisa dekat dengan ibu, ternyata tidak cukup merekahkan
senyum ibuku. Sekarang aku memang dekat, tetapi aku tidak bisa selalu dekat
dengan beliau, karena aku harus menginap di tempat kerjaku yang baru, bekerja
ganda sebagai musyrifah di pondok.
SMP tempatku bekerja memang mewajibkan santri-santrinya untuk boarding di pondok pesantren yang juga
masih satu lokasi dengan SMP ini. Ah…. tidak masalah, aku masih bisa
mengunjungi ibuku seminggu sekali, semoga bias-bias senyum di wajah ibuku
kembali merekah.
Sudah
lima tahun sudah aku mengabdi di sekolah ini. Hari-hari kujalani dengan senyum
sumringah. Ada banyak rintangan dalam menghadapi tangisan anak dan tangisan
wali murid tentunya. Namun itu tidak menyurutkan langkahku untuk terus mengabdi
disini. Lagipula menjadi seorang ibu adalah cita-cita setiap wanita. Aku adalah
seorang ibu dari setiap anak-anak yang tidak terlahir dari rahimku. Saat pagi
datang, aku bekerja di SMP dan ketika sore tiba aku mulai mengasuh mereka,
mendampingi mereka. Dari mulai membantu belajar, membantu merapikan tempat
tidur, isi lemari, hingga membuat mereka lupa akan rumahnya, bahkan lupa dengan
orang tua mereka, agar mereka bisa nyaman tinggal di asrama, tanpa merengek
ingin pindah sekolah. Tugasku memang sama seperti tugas-tugas ibu pada umumnya.
Anggap saja ini adalah jalan untuk berlatih menjadi seorang ibu ketika aku
sudah menikah nanti.
Ada
rasa lelah menjalar di tubuh ini, tetapi tekatku sudah bulat. Aku harus kuat
dan menamatkan sekolahku sampai sarjana. Ya…melalui sekolah ini, aku bisa
kuliah di salah satu universitas di kota Sukoharjo. Alhamdulillah, tahun ini
sudah masuk semester lima. Bahagia rasanya bisa melanjutkan sekolah tanpa harus
menambah beban orang tua. Ku sisihkan setiap kafalah tiap bulannya, agar aku bisa membayar iuran semester di
kampus. Setiap rasa lelah bergelayut manja dalam tubuh ini, selalu ku bisikkan
sebuah kekuatan. “lelah yang disertai
Lillah pasti akan menimbulkan sebuah hikmah di masa yang akan datang.” Aku
harus kuat demi anak-anakku yang disini. Senyum mereka, tingkah lucu mereka,
gurauan mereka, keusilan mereka adalah cambuk semangatku untuk tetap bertahan disini.
Buat apa aku jauh-jauh berlayar di negeri seberang jikalau disini aku menemukan
kedamaian? Ada anak-anak yang bisa menjadi obat mujarab rasa lelah, rasa marah,
dan juga saat mengalami perih. Ada sahabat-sahabat yang selalu mengingatkan
disaat aku futur. Ada banyak rekan
kerja yang selalu memotivasiku untuk terus maju menuju masa depan yang lebih
baik. Lingkaran islami inilah yang kudambakan sejak dahulu. Lingkungan kerja
yang kondusif, mana mungkin aku tinggalkan?
Lima
tahun bukan hal yang singkat aku berlayar di tempat ini. Banyak sekali kejadian
luar biasa yang mendewasakanku. Dan ini tidak akan pernah aku lupakan. Hingga
di akhir liburan Syawal, cerita perpisahan ini dimulai. Seseorang melamarku,
tepat di tanggal 1 Syawal. Setiap ustadah
yang sudah menikah, harus rela meninggalkan pondok karena ada kewajiban yang lebih utama, yaitu
mengurus suami. Sama halnya aku nanti, ketika aku sudah menikah, tentu suasana
rumah tak akan seriuh suasana di asrama pondok. Ingin rasanya membatalkan,
tetapi menikah adalah impianku, apalagi saat ini usiaku sudah memasuki usia 23
tahun. Bukankah di usia seperti ini adalah usia yang sudah cukup matang untuk
mengarungi bahtera rumah tangga?
****
Tahun ini menginjak dua tahun pernikahan kami. Belum
ada tanda-tanda kehamilan di dalam rahimku. Sementara tetangga-tetangga sudah
riuh menanyakan kapan aku hamil. Banyak sekali pertanyaan yang mereka sampaikan,
semua pertanyaan itu seakan menyudutkanku. Apalagi mertua dan orang tuaku juga
menginginkan untuk segera menimang cucu. Lagi-lagi kata “santai” menjadi
jawaban yang mujarab untuk menjawab semua pertanyaan mereka. “InsyaAllah, kalau Allah sudah percaya kita
mampu, pasti Allah akan memberikan amanah itu.” Itu adalah kata-kata
penguat saat aku menangis di bahu suamiku.
Bulan Juli tahun 2017 di desaku sedang ramai musim
hajatan. Kebetulan di sebelah timur rumahku juga sedang mengadakan hajatan
syukuran atas kelahiran anaknya, biasanya orang-orang baik satu desa maupun
tetangga desa akan berduyun-duyun datang merayakan kebahagiaan itu dengan
membawa amplop ataupun sembako. Sama halnya tetangga yang lain, aku pun juga
ikut rewang di rumah tersebut. Aku
ikut membantu menjinjing tas berisi sembako yang dibawa oleh tamu undangan
menuju dapur umum, biasanya berisi beras.
“Lek, aku kok belum haid ya?” tanyaku pada lek Yuni
di sela-sela istirahatku.
“Jangan-jangan kamu hamil? Istirahat saja, tidak
perlu bantu-bantu.” Jawab lek Yuni
Akhirnya aku putuskan untuk beristirahat di rumah,
rebahan sebentar. Pelan-pelan ku seka keringatku. Aku pun berpikir kemungkinan
aku hamil, karena ini sudah telat satu minggu. Ku ambil satu box test pack di dalam almari hadiah
pernikahan dari teman suamiku. Tidak ada salahnya aku pastikan kehamilanku ini.
Setelah aku cek , dua garis muncul, Alhamdulillah terucap dari bibirku. Setelah
dua tahun menunggu, akhirnya penantianku terjawab sudah.
Orang bilang aku ngebo,
karena selama hamil aku jarang merasakan mual, pusing, ataupun muntah. Aku pun
masih melaksanakan aktivitas seperti biasa, nyapu, nyuci, masak, kerja. Apalagi
di sekolah tahun ini aku diamanahi double
job, operator sekolah dan juga mengajar di kelas. Perlu ekstra hati-hati
dalam menjaga kehamilan ini. Tidak boleh capek, tidak boleh banyak pikiran, dan
tidak boleh stress. Namun itu semua hanyalah angan-angan, di tengah perjalanan
selama aku mengandung, tentu banyak masalah-masalah yang cukup menguras energi.
Terutama permasalahan operator sekolah. Ada beberapa guru di sekolah yang belum
valid di info GTK. Hingga akhirnya muncul banyak pertanyaan-pertanyaan dari
mereka yang sangat menggemaskan, padahal aku sudah mengerjakan tugasku sesuai
dengan prosedur. Sebenarnya permasalahan ini begitu sederhana, server pusat
belum bisa menyimpan data keseluruhan, jadi perlu ada proses, sehingga ada
keterlambatan dalam memvalidkan data.
Permasalahan-permasalahan dalam pekerjaan yang cukup
menggelitik pikiran ternyata tidak menyurutkan semangatku untuk terus berjuang
di dunia pendidikan ini. Alhamdulillah selama Sembilan bulan mengandung, tidak
ada hal serius dalam kehamilan ini. Akhirnya tanggal 27 Februari 2018, lahirlah
putra kami yang pertama. Bayi mungil dengan berat badan 2,7 kg dan panjang
badan 49 cm. Berwajah ganteng, mirip abinya. Alhamdulillah ya Allah, Engkau
berikan nikmat yang tiada terkira dalam kehidupanku. Bayi mungil nan lincah ini
kuberi nama Raiis Taajuddiin Shaalih, karena kita berharap kelak jundi ini menjadi
pemimpin yang kaya (kaya hati, kaya iman dan kaya harta), menjadi seorang yang
sholih dan juga bisa mensholihkan orang lain, serta menjadi mahkota bagi
agamanya. Aamiin
Menjadi mamah muda, tentu sangat menguras energi,
sedikit-sedikit bangun malam untuk menyusui, belum lagi dengan pekerjaan rumah
yang lain. Namun ini tetap harus aku nikmati, karena ini adalah sebuah ladang
pahala bagiku, bekalku menuju surga Allah nantinya. InsyaAllah. Sama seperti namanya, Raiis kecil adalah anak yang
ceria, umur satu bulan dia sudah bisa merespon senyum dari orang yang ada di
dekatnya. Bahagia sekali rasanya, dua bulan bisa membersamai anak pertama kami
di rumah.
Usia tiga bulan Raiis kecil sudah bisa tengkurap. Aku
sering menyimpan momen-momen pertumbuhan Raiis, baik dalam bentuk gambar maupun
video. Foto tengkurap, foto tersenyum, foto saat dia duduk, bahkan foto saat
dia bertingkah menggemaskan. Video-video tentang suara-suara Raiis kecil pun
sekarang masih tersimpan rapi di memori hp maupun laptopku. Dan sama halnya
dengan mamah muda lainnya, aku tak pernah absen untuk mengupload beberapa foto maupun video yang aku simpan di galeri
HPku.
Ada perubahan besar ketika aku sudah menjadi seorang
ibu. Aku yang dahulu adalah seorang yang mengisi waktu luangnya untuk nonton
berbagai film, namun setelah jadi ibu aku sering mengisi waktu kosongku untuk
membaca berbagai pedoman tentang mendidik anak laki-laki, atau juga resep-resep
membuat mpAsi. Aku sudah jarang lagi melirik baju-baju sejenis gamis ataupun
jilbab, namun aku lebih suka membeli barang-barang kebutuhan Raiis, misalnya baju,
kaos kaki, topi, dan mainan. Hampir setiap bulannya aku membelikan sesuatu
untuk Raiis. Ini bukanlah sebuah keborosan ya, namun ini adalah wujud
kebahagiaanku karena Allah memberikan
amanah ini, di saat yang lain masih menunggu amanah yang luar biasa ini.
Raiis kecil tidak terlalu rewel dan jam tidurnya pun
tidak begitu larut. Sehingga aku masih bisa meluangkan waktuku untuk
menyelesaikan skripsiku di sela-sela tidur malamnya. Karena aku masih seorang
mahasiswa. Jika dirasakan memang lelah, harus mengurus bayi, menyelesaikan
skripsi, kerja, dan tentunya bola-balik ke kampus untuk melakukan bimbingan
skripsi. Aku harus semangat, jika aku cepat wisuda, tentunya pasti waktuku akan
lebih lama bersama anakku tercinta. Berkat dorongan dan bantuan dari suami
tercinta, akhirnya tanggal 28 Oktober 2018 aku bisa ikut wisuda. Alhamdulillah.
Sekarang Raiis kecil sudah tumbuh menjadi bayi
dewasa. Mengapa aku sebut bayi dewasa? Karena di usianya yang masih belia, dia
memiliki tingkah laku seperti orang yang lebih dewasa. Usianya sekarang sudah
memasuki usia 22 bulan, giginya sudah tumbuh hampir sempurna, tingginya sudah 82
cm dengan berat badan 11 kg. Raiis tumbuh menjadi anak yang periang, dia tidak
pernah terlihat murung, selalu saja tersenyum dan tertawa. Tingkah lakunya pun
menggemaskan. Saat petang tiba, dia selalu meminta untuk menonton TV, dia
bilang “ngaji mi”. Ngaji disini bukan mendengarkan ceramah, ataupun tayangan
yang berisi murotal Al Qur’an misalnya di TV Rojja ataupun Fatwa, tetapi ngaji
disini adalah ia ingin mendengarkan adzan. Dari awal abinya sudah membahasakan
ke Raiis, kalau adzan itu termasuk ngaji, namun yang diingat Raiis hanya kata
terakhirnya saja, yaitu ngaji. Sampai saat inipun ketika dia sudah bosan
melihat kartun, dia pasti selalu minta diganti chanel yang ada ngajinya. Meski itu di siang bolong sekalipun dia
tetap minta ngaji, padahal di TV tidak ada stasiun TV yang menayangkan adzan di
siang hari.
Awalnya aku kesal juga, karena setiap waktu Raiis
selalu minta ngaji. Aku tayangkan acara ceramah dia tidak mau, acara murotal
dia juga tidak mau, acara kartun dia tidak mau. Aku beri pemahaman ke Raiis
kalau murotal itu juga disebut ngaji, tapi anak seusian 22 bulan belum terlalu
paham dengan apa yang aku jabarkan. Dan disaat kekesalanku memuncak, alhamdulillah
ada tayangan lagu Indonesia Raya, tangisannya langsung berhenti seketika.
Ada sebuah kesalahan dalam aku mendidik Raiis. Dari
usia 14 bulan Raiis sudah sering aku perlihatkan video di youtube melalui HPku. Itu aku lakukan agar aku bisa sekali
mendayung dua tiga pulau terlampaui, mengasuh anak juga bisa melakukan aktivitas
lain. Namun hal itu menjadi sebuah boomerang, setiap lihat HP Raiis selalu
meminta aku untuk memperlihatkan video youtube
di HP. Raiis suka dengan video ikan, jadi ada beberapa video yang sengaja
kusimpan, video ikan, video lagu Indonesia Raya, video Nusa dan Rara, dan juga
video murotal Qur’an disertai animasi, harapanku Raiis nanti bisa cepat hapal
Al Qur’an dan menjadi seorang hafidz.
Aku tahu apa yang aku lakukan ini akan berkaibat
buruk untuk Raiis, selain radiasi HP yang tidak baik, juga akibat kecanduannya
ini yang kadang membuatku kesal juga. Akhirnya aku dan suami sepakat untuk
tidak menggunakan HP saat sedang bersama Raiis. Juga kita menayangkan film,
lagu-lagu anak, dan juga adzan yang sudah kita simpan di flasdisk melalui
TV. Entah aku lupa namanya apa.
Alhamdulillah, dengan cara tersebut sedikit demi sedikit Raiis sudah agak lupa
dengan HP, asalkan HP tidak tergeletak di tempat yang bisa dijangkau Raiis.
Kalau sampai ketahuan Raiis tempat persembunyian HP, wahh…sangat bahaya.
Dulu saat Raiis masih di dalam kandungan, aku selalu
menyelipkan doa, salah satunya agar anakku menjadi anak yang aktif, dan itu
terbukti sekarang. Raiis adalah balita yang super aktif, aku sendiri sangat
was-was saat harus meninggalkan dia sebentar saja, dia bisa naik kursi, naik
mobil-mobilan bahkan sampai memanjat lemari plastik tempat menyimpan
baju-bajunya. Pernah suatu ketika, saat aku sedang mencuci piring, kubiarkan
Raiis menonton film Nusa dan Rara di TV. Tiba-tiba dia sudah berada di depan
tungku yang di dalamnya masih ada bara api bekas memasak tadi pagi. Dia bilang
“bakal-bakalan” artinya kebakaran. Spontan aku langsung menarik dia, takut nanti
terjadi hal-hal lain yang bisa membahayakan keselamatan anak tercintaku. Entah
ini salah atau tidak, memang saat aku sedang menyuapinya sambal jalan-jalan di
depan rumah, kalau ada yang membakar tumpukan sampah, aku bilang ke Raiis, itu
namanya kebakaran, ada apinya yang menyala. Langsung deh, aku nyanyikan lagu Api
Kita Sudah Menyala ala-ala anak pramuka, Raiis pun tambah girang dan lahap
makannya. Alhamdulillah suara emaknya ini empuk, seempuk buah tomat, jadi Raiis
pun ikut-ikutan nyanyi juga. Intinya Raiis tidak boleh terlalu lama lepas dari
kepengawasan, karena di usianya yang masih belia dia belum paham benar, apakah
ini atau itu aman baginya.
Anak
tercintaku sudah bisa menyanyikan lagu Cicak-Cicak di Dinding, Topi Saya
Bundar, Burung Kakak Tua, Hujan-Hujan Lagi dan juga sedikit syair pada lagu
Indonesia Raya meski hanya kata akhir saja yang dia bisa. Tentunya dengan
bahasa lirik yang masih belepotan, tetapi itu tetap luar biasa. Mungkin hobi
menyanyi umminya turun ke anaknya hehe. Raiis kecilpun alhamdulillah sudah bisa
menirukan surat Al Ikhlas dan hafal beberapa ayat dalam surat Al Fatihah.
Beberapa waktu lalu, Raiis sedang demam, dan tiba-tiba dia melafalkan beberapa
ayat dari surat Al Fatihah. Alhamdulillah, ini salah satu nikmat dari Allah
yang wajib aku syukuri.
Semakin
lama aku semakin dekat dengan Raiis. Sampai-sampai Raiis tidak mau jauh dari
umminya, ummi lagi nyuci, ditariknya tangan ini agar mau menemani dia menonton
TV, dia bilang “geyet”. Tak apalah, aku senang dengan keadaan ini, meskipun aku
harus bisa sembunyi-sembunyi saat ingin berangkat kerja. Terkadang aku pernah
khilaf memarahinya, disaat dia menangis aku langsung memeluk Raiis, karena
pelukan seorang ibu bisa menenteramkan hati anak. Dan ini aku lakukan saat
Raiis juga sedang tantrum. Kubiarkan dia berada dalam dekapanku, hingga dia
berhenti menangis.
Saat
di sekolah, ada keinginanku untuk cepat memutar jam dunia, agar aku bisa cepat
kembali pulang untuk bertemu buah hatiku. Sayangnya aku tidak bisa. Sebagai
seorang karyawan swasta, aku dituntut untuk berangkat sebelum pukul 7.00 dan pulang
setelah pukul 15.00. Sekolahku memang berbeda dengan sekolah umum lainnya,
karena ada mata pelajaran khusus yang ditambahkan pada jam pelajaran, contohnya
Tahfidz, Qur’an Hadist, Fiqih, Shiroh, dan Bahasa Arab.
Ada keinginan untuk mengasuh Raiis sendiri di rumah.
Tetapi aku tidak bisa seperti ibu-ibu rumah tangga yang lain. Aku jenuh jika
harus berdiam diri di rumah dan hanya mengasuh anak, aku masih ingin produktif.
Aku juga tahu aku salah menitipkan Raiis pada orang tuaku, mengingat usia
mereka yang semakin sepuh. Namun, aku
juga tidak bisa lepas dari dunia pendidikan ini, keduanya merupakan ladang
pahala yang harus aku tanami benih-benih yang bisa ku petik di akhirat nanti. InsyaAllah.
Waktu-waktu bersama Raiis adalah hal yang
membahagiakan untukku. Di saat aku sudah suntuk dengan pekerjaan kantor, sampai
di rumah melihat senyum Raiis itu sudah membuat hatiku meleleh. Rasa lelah
lenyap seketika. Seiring berjalannya waktu, emosiku yang labil juga sudah mulai
bisa terkontrol, karena menemani Raiis di masa kecil hanya singkat, aku harus
bisa membuat kenangan-kenangan bahagia di masa kecil Raiis. Juga tidak terlalu
memanjakan dia, agar kelak dia bisa menjadi insan yang mandiri.
Raiis adalah anugerah terindah dalam hidupku.
Menantikan kehadirannya butuh waktu dua tahun. Kehadirannya mengajarkanku
tentang begitu besarnya perjuangan menjadi seorang ibu mulai dari mengidam,
mengandung, melahirkan, sampai mendidik hingga ia dewasa nanti. Kehadirannya
mengajarkaanku tentang arti sebuah kesabaran. Kehadirannya mengajarkanku
tentang makna keikhlasan. Kehadirannya mengajarkanku tentang sebuah ketulusan.
Aku tak akan pernah menyia-nyiakan amanah ini, ini adalah hal yang sangat
mulia. Satu pesanku untuk anakku Raiis, “Nak,
jika engkau dewasa nanti, ingatlah kami orang tuamu, meski engkau berada di
puncak kesuksesan. Senantiasa doakanlah kami, meski raga ini sudah hancur
berbaur dengan tanah. Karena hanya tiga amalan yang masih bisa mengalir, jika
kami telah meninggalkan dunia ini. Ilmu bermanfaat, amal jariyah, dan anak-anak
yang sholih yang mau mendoakan kedua orang tuanya. Jika abi dan ummi tak lagi
bisa mendekapmu, jadikan Allah tumpuan hidupmu. Engkau tak perlu takut, nak.
Masih ada Allah sebagai pelindungmu. Abi dan ummi menyayangimu.”
Raiis Taajuddiin Shaalih, seperti namamu, semoga
engkau menjadi seorang pemimpin yang kaya namun tetap dermawan. Semoga engkau
menjadi pejuang bagi agamamu. Semoga engkau menjadi pendakwah bagi umat. Semoga
engkau menjadi anak yang sholih. Semoga engkau menjadi seorang hafidz yang
mampu menyematkan mahkota di kepala ummi dan abi. Engkaulah harapan ummi dan
abi. Qurrota a’yun bagi ummi dan abi.
Engkaulah permata ummi dan abi.
Wonogiri, 6 Januari
2019.

Komentar
Posting Komentar