Langsung ke konten utama

Thropy Impian


Matahari mengintip di balik pepohonan rindang, semilir angin berhembus pelan membawa hawa sejuk. Hari ini hari Minggu, entah mengapa aku malas untuk mandi pagi seperti biasanya. Toh, aku belum sekolah juga.  Seperti biasa, bapak dan ibuku bersiap-siap untuk pergi ke ladang. Sebenarnya aku malas untuk ikut, hanya saja kalau di rumah aku juga tidak ada kegiatan yang pasti. Paling hanya nyanyi-nyanyi sambil mainan boneka. Aku bosan juga. Akhirnya aku ikut bapak dan ibu ke ladang. Lagipula sambil nunggu orang tuaku selesai memanen kacang dan jagung, aku bisa bermain di rumah budeku. Anaknya bude kan punya mainan banyak, ada piano, boneka, alat-alat masak, dan yang lainnya. Pasti aku tidak cepat bosan.

Aku mengikuti langkah bapak dan ibu, di jalanan aspal masih tersisa genangan air sisa hujan tadi malam. Ku tenteng tas jinjing berisi gelas dan gula dengan hati-hati. Kalau sampai jatuh dan gelasnya pecah, ibuku bisa marah-marah. Kami berjalan melewati pematang sawah yang cukup lebar, namun aku tetap harus berhati-hati karena biasanya pematang sawah yang ditumbuhi rerumputan akan terasa licin. Selanjutnya, kita melewati sungai. Alhamdulillah, meskipun semalam hujan lebat, aliran sungai masih tenang. Aku masih bisa melihat bebatuan yang bisa aku pijak agar aku tidak jatuh ke dalam kubangan sungai. Setelah menyeberangi sungai, kita melewati kali kecil, di atasnya ada jembatan dari bambu yang sangat licin. Ayah membantuku untuk membawa tas yang ku jinjing tadi. Sambil merangkak ku lewati jembatan tadi.

Akhirnya sampai juga aku di ladang. Ku buatkan dua gelas teh untuk bapak dan ibuku. Umurku masih 4 tahun, sekedar membuat teh saja aku bisa. Ku lihat bapak dan ibu sudah mulai mencabut beberapa tanaman kacang. Sesekali aku ikut membantu juga. Tapi lama-lama aku bosan juga. Aku pun meminta ijin untuk bermain bersama Mbak Yekti, anak budeku.

Sampai di rumah bude, kulihat Mbak Yekti sedang duduk di teras rumah sambil memencet tuts piano kecil. Ingin rasanya aku meminjam, tapi takut jika Mbak Yekti tidak memperbolehkannya. Aku hanya terus melihat dan mendengarkan alunan lagu Ibu Kita Kartini. Mbak Yekti masih asyik dengan pianonya, sampai-sampai aku datang pun dia tidak menyapaku. Kesal rasanya. Aku masuk ke dalam rumah, kuamati sertifikat juara 1 MTQ tingkat Provinsi Jateng yang terpampang manis di dinding kamar Mbak Yekti. “Andai aku juga bisa memilikinya”, gumamku. Sorot mataku menuju lemari kaca di dekat kursi tamu, disana terpajang beberapa trophy juara MTQ juga. Kulihat ada yang juara 1, juara 2, bahkan juara 3. Rasa penasaran membuatku untuk sekedar memegang trophy tersebut. Untung lemarinya tidak dikunci.

“Kamu mau ambil apa, Nev?” Tanya Mbak Yekti.

“Aku boleh minta satu trophynya, Mbak?” jawabku.

“Yang mana yang mau kamu ambil?” Tanya Mbak Yekti.

Ku tunjuk trophy tertinggi, di papannya tertulis juara 1 MTQ Cabang Tilawah TK/RA/BA Provinsi Jawa Tengah.

“Tidak boleh, itu kan juara Provinsi, kamu ambil yang ini saja, juara 2 dan juara 3 milik Lek Larno. Sama saja bentuknya.” Jawab Mbak Yekti sambil cemberut.

“Tapi aku maunya yang itu.”  rengekku.

“Tidaaaak boleehhhh, sana pulang saja. Jangan pegang-pegang trophy-trophyku lagi” teriak Mbak Yekti.

Aku pun berlari keluar rumah sambil menangis keras. Tak kuhiraukan teriakan Ibu yang memanggilku. Aku langsung pulang. Padahal Mbak Yekti memiliki trophy banyak, aku hanya meminta satu saja tidak boleh. Dia kan lebih tua dariku, seharusnya dia mengalah. Di jalan, aku terus menangis sampai terisak-isak. Sampai di jalan depan masjid, di luar masjid ada Pakde Paijo, beliau pun bertanya mengapa aku menangis. Ku jawab jika aku ingin memiliki trophynya Mbak Yekti tapi tidak boleh.

“Nanti kalau sudah Al Qur’an, Pakde ajari qiroah. Agar nanti kamu bisa ikut lomba dan bisa menang. Kalau menang pasti dapat hadiah, hadiahnya tropy dan uang pembinaan. Sudah ya jangan nangis lagi.” Nasihat Pakdhe Paijo.

Aku pun pamit pulang, aku berazam di dalam hati aku harus segera bisa membaca Al Qur’an. Ku rasa tidak terlalu lama, saat ini aku sudah pertengahan jilid 6. Mungkin sebulan lagi aku bisa langsung naik ke tingkat Al Qur’an.

Tiga tahun berlalu, kini aku sudah kelas 2 SD. Akupun mengikuti lomba MTQ yang pertama. Namun aku gagal di tingkat kecamatan. Tak apalah, masih ada banyak kesempatan lagi. Di kelas 3 aku mengikuti lomba MTQ lagi cabang tilawah, namun hasilnya masih tetap sama. Aku gagal di tingkat kecamatan. Kegagalanku tidak menyurutkan langkahku, malah itu menjadi cambuk untuk lebih semangat belajar lagi. Akan ku buktikan ke Mbak Yekti, aku juga bisa memiliki banyak trophy, tanpa harus meminta lagi ke Mbak Yekti.

Di saat aku kelas 4 SD aku mengikuti lomba MTQ lagi. Alhamdulillah, kali ini aku lolos di tingkat kecamatan. Lalu maju di tingkat kabupaten. Di tingkat Kabupaten Wonogiri ini alhamdulillah aku mendapatkan juara 2 MTQ cabang Tilawah SD putri. Syukur kupanjatkan pada Allah SWT. MC pun memanggilku untuk naik ke podium menerima trophy. Saat kuterima tidak sengaja ujung trophy yang kuterima mengenai mataku, perih sebenarnya. Namun rasa sakit itu perlahan-lahan lenyap oleh kebahagiaanku. Di sudut ruangan, Pakde Paijo bertepuk tangan sambil tertawa bahagia. Tak terasa air mataku jatuh, bukan karena rasa sakit mataku, tapi karena aku terharu dengan perjuanganku selama ini.

Mulai dari itu, aku semakin bersemangat untuk terus berlatih. Setiap tahun aku selalu mengikuti perlombaan itu, alhamdulillah aku selalu lolos di tingkat kabupaten. Kini sudah ada puluhan trophy berjejer manis di dalam lemari kacaku. Paling tinggi tingkat kabupaten. Sayangnya di tingkat provinsi aku masih gagal. Tapi tak apalah, ku jadikan ini sebuah pengalaman berharga. Tahun 2014 adalah tahun terakhir aku mengikuti lomba MTQ. Ku rasa aku sudah tidak pantas lagi mengikuti perlombaan itu. Umur bertambah dan aku harus memikirkan masa depanku. Meskipun masih ada cabang tilawah golongan dewasa. Biarkan saja yang lain yang ikut berkompetisi. Saat ini aku harus mulai fokus ke pekerjaan dan keluarga kecilku.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelangi dalam Bayang Hitam

Rasa ini, membuatku ingin terus bertahan, Pada khayal indah menyatunya kita, Rasa ini....... Semakin ku harap hilang, semakin jua ia menancap tajam dalam pori-pori hatiku, Khayalan ini bukan hanya sebuah harapan, Namun khayalan ini adalah cita yang aku dambakan, Akankah aku bisa meraihmu duhai khayalan? Ntahlah...... Karena ku rasa.... Aku bukan mentari, yang bisa membuat terang hidupmu, Aku bukan pelangi, yang bisa mewarnai langkahmu, Aku bukan bintang sebagai pembuat harapan-harapanmu, Aku terpaku, pada keraguanku, Aku lunglai dalam kebingunganku, Aku terdiam, dalam menunggu jawab istikharahku, Diam bertumpu dalam keresahanku, Aku memang payah... bersikap lembut pada hati yang kian terhanyut, Aku memang payah, Hanya bisa menyalahkan masa yang telah lalu, Meskipun ku coba marah pada kalbuku, Meski kupukulkan rotan pada hatiku, Tetap saja, Rasa itu semakin tumbuh subur, bak kembang desember di musimnya... Padahal, tiap waktu mereka b...

Aku, Kamu dan Kita

Kutuliskan curahan hatiku yang pertama dalam gelar kertas pada layar ini. Ya..... kisah yang selama ini sudah cukup memenuhi ruang dalam hidupku. Kisah yang telah menyatukan dua kata “kamu dan aku” menjadi satu kata yaitu “kita”. Kita yang bersatu, ntah kapan awalnya, kita yang bersatu dengan harapan kita akan bersau selamanya, tak hanya di dunia ini saja, tetapi dalam surga Nya. Namun itu hanyalah sebuah harapanku, aku yang terlalu berharap menjadi ratu dalam istanamu. Aku yang selalu berharap, aku yang kan selalu membahagiakanmu dengan sikap manjaku. Dan aku yang selalu berharap, aku lah bidadari surgamu. Ya...itulah khayalanku. Aku yang berkhayal bahwa kelak hanya akulah yang akan memilikimu. Bahwa aku lah kelak yang akan menjadi bunda dari anak-anak kita. Dan kisah yang selama ini aku damba dan impikan hanyalah akan menjadi sebuah fiktif yang tak pernah menjadi sebuah kenyataan. Karena ego kita, karena kita terlalu egois. Kita belum bisa menyatukan dua keinginan kita, padaha...

Aku Tahu

Aku tahu, jika pada akhirnya bukan cintalah yang menyatukan, Aku juga tahu, jika pada akhirnya bukan hatilah yang menentukan, Aku tahu, jika pada akhirnya takdir yang menyambut kita, ntah baik kah? atau malah membuat hati semakin menangis? Ya.... karena sejatinya cinta adalah sesuatu yang menyenangkan namun begitu juga menyakitkan. Cinta juga merupakan suatu penghubung antara bahagia dan nestapa. Cinta juga merajut suka dan duka. Cinta juga menyatukan bahagia dan luka. Namun bukan kita yang merajut, bukankah jua kita yang menghubugkan, kita hanyalah subyek, kita adalah aktor yang berperan dalam sandiwara-sandiwara kehidupan, dan engkaupun tahu hal itu, engkau paham jika kita tak bisa memaksa cinta, engkau paham bahwa kita saat ini hanyalah bermain peran, dan yang menentukan kita adalah dia sang Dhalang yang Bijaksana.