Aku ingin berubah, berubah menjadi
lebih baik, lebih taat, dan tentunya lebih sholihah. Bukan hanya di mata ibu
dan bapak, tapi juga untuk Sang Khalik yang telah bermurah hati membangunkan
mataku saat aku terbuai dalam mimpi yang melenakan. Aku ingin berubah, tidak
hanya berubah dalam kedipan mata, tetapi berubah ke dalam kehidupan yang lebih
baik dari sekarang. Aku ingin berubah, menapaki jalan hidupku dengan penuh
berkah. Aku ingin berubah, meniti dunia dengan jalan yang diridhoi oleh Sang
Pencipta.
Tring. Bunyi pesan masuk di gawaiku
mengejutkanku dari aktivitas menyalami tamu. Saat itu di rumahku sedang
berlangsung sebuah hajatan. Pesan tersebut masih kuabaikan beberapa menit.
Setelah kurasa tamu sepi, aku pun kembali duduk. Ku ambil gawai di saku
gamisku, dan aku pun mulai membaca pesan tersebut.
“Assalamu’alaikum
wr wb, berdasarkan hasil tes seleksi calon karyawan di SMPIT, Anda dinyatakan
diterima. Untuk itu, hari Senin, 11 Juli 2011 silakan datang ke sekolah.
Terimakasih. Wassalamu’alaikum wr wb. KS.”
Mataku berbinar membaca isi pesan
tersebut, senyumku pun merekah. Alhamdulillah ya Allah. Setelah dua bulan
menganggur, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan juga. Tak lupa kabar baik ini
kusampaikan kepada ibuku. Ibuku pun juga mengucap syukur dan mengelus bahuku.
Beberapa jam kemudian, muncul kembali
pesan dari nomor tak dikenal. Yang menyebutkan bahwa aku harus datang ke SMPIT
hari Ahad pagi, diminta juga untuk membawa beberapa baju ganti. Aku harus
menginap di tempat kerja. Pesan tersebut urung ku balas. Menginap? Kata itu
yang masih terngiang di otakku. Kalau aku menginap, tentu aku akan meninggalkan
ibuku. Bukankah kemarin aku resign
dari tempat bekerjaku yang dulu karena aku ingin dekat dengan ibuku? Bisa
bekerja sambil menjaga ibu? Ya Allah, permudahkanlah jalanku.
Hajatan berakhir malam hari. Mataku
sulit terpejam, memikirkan bagaimana caranya kusampaikan berita ini kepada ibu.
Aku takut ibu kecewa. Jam dinding menunjukkan pukul 21.15 WIB, aku pun keluar
kamar. Ku lihat ibu dan bapak masih bercengkerama di depan TV. Ku bulatkan
tekadku untuk menceritakan ini semua kepada ibu dan bapak.
Ibu terdiam mendengarkan ceritaku.
Wajahnya terlihat sendu. Mungkin ada rasa berkecamuk di dalam hatinya. Dua
bulan yang lalu setelah aku pulang, ibu kelihatan bahagia menyambut
kepulanganku, sedangkan Ahad besok aku harus kembali meninggalkan ibuku. Ku
tatap wajah ibuku, beliau masih terdiam. Hanya ayah yang mengucap sedikit
nasihat untukku. “Dijalani dulu, bisa bekerja sambil mondok di pesantren itu
luar biasa. Dinikmati dulu saja, misal nanti tidak betah ya ditinggalkan.
Alhamdulillah sekarang sudah dapat kerja, teman-temanmu yang disini masih ada
beberapa yang nganggur. Katanya kamu pengin kuliah, Nduk?”.
Mendengar kata kuliah di dalam
nasihat bapak, aku seperti tertampar. Dulu aku berniat untuk bekerja karena aku
ingin bisa menabung untuk biaya kuliah tanpa harus membebani orang tua. Setelah
lulus dari SMK, bapak dan ibu sudah menyampaikan jika mereka sudah tidah
sanggup lagi membiayaiku sekolah. Adikku masuk SMA, tentu membutuhkan biaya
yang besar pula. Dengan mengucap bismillah kubulatkan tekadku untuk mencoba
bekerja di sekolah itu. Tidak ada salahnya kan mencoba?
Ahad yang dinanti pun tiba begitu
cepat. Aku hanya membawa beberapa pakaian, berharap masih bisa pulang lagi jika
aku kekurangan pakaian. Itung-itung untuk melepas rinduku pada ibu. Ku gendong
tas ranselku. Aku pun pamit. Ibu memelukku erat, seakan kita tidak akan bertemu
kembali. Ibu menciumku. Ku rasakan ada bulir bening mengalir di wajah ibu. Ibu,
doakanlah anakmu ini.
Di perjalanan menuju ke tempat
kerjaku yang baru, muara yang kubendung tumpah. Untung tempat dudukku di bus
agak belakang, jadi tidak akan ada orang yang menyaksikan aku menangis. Ku seka
air mataku dengan tissu. Aku harus bisa. Aku harus kuat jauh dengan ibu. Aku
harus bisa mandiri, menggapai cita-cita dan masa depanku, juga demi mimpi ibuku
memiliki anak seorang guru.
Setelah sepuluh menit di dalam bus,
akhirnya aku sampai. Sekolah ini tidak berada di pinggir jalan raya. Masuk area
perkampungan sekitar 200 meter dari jalan raya. Seseorang melambaikan tangannya
seraya memanggil namaku. Yang ku ingat nama beliau adalah mbak Arum. Aku pun
diantar menuju kamar. Di dalam kamar mbak Arum bercerita tentang sekolah ini,
termasuk apa tugasku disini. Selain membantu di bagian administrasi sekolah di
pagi hari, malamnya aku harus mengasuh beberapa santri putri. Kuanggukkan
kepalaku tanda mengerti. Mbak Arum pun pamit untuk undur diri, kini tinggallah
aku di kamar ini, bersama lima puluhan santri putri yang akan menemani
hari-hariku di tempat asing ini.
Tidak ada kesulitan saat aku bekerja
di sekolah, pekerjaannya hampir sama dengan pekerjaanku dulu. Membuat surat, melayani
pembayaran spp, melayani tamu, dan yang lainnya. Yang sulit itu hanya jika aku
kebanyakan nganggur. Maklum, karyawan baru tentunya masih bingung apa saja yang
akan dikerjakan. Setiap selesai membantu satu pekerjaan, aku selalu bertanya ke
mbak Arum apalagi yang perlu aku kerjakan.
Mengasuh anak, kupikir itu pekerjaan
yang mudah sama halnya ketika aku membantu ibu momong adikku. Ternyata beda antara mengasuh adik dan mengasuh
santri. Kalau adik hanya satu, sedangkan santri terdiri dari puluhan orang dengan
berbagai macam karakter, ada yang lembut, galak, pendiam, pemalu, suka jail,
rewelan, dan sebagainya. Aku jadi berpikir, ternyata jadi ibu itu tidak mudah
ya? Apa mungkin aku betah disini? Sementara aku saja masih rewel juga ingin
pulang, sama seperti mereka. Mbak Arum kadang menasihatiku, kalau ustadahnya
saja rewelan tentu anak yang diasuh akan lebih rewelan lagi. Jadi aku harus
sabar menghadapi mereka, juga bersabar menghadapi egoku yang selalu minta ijin
untuk pulang. Tapi tak apalah, mungkin ini bisa dijadikan sebuah latihan dasar
sebelum aku berumah tangga nanti.
********
Tiga tahun pun berlalu, tepatnya
tahun 2014. Aku sudah terbiasa dengan semua pekerjaanku. Mengasuh anak, ah…
sudah biasa. Apalagi setahun setelah aku disini, ada dua orang teman yang
datang. Mbak Dhini dan Ina. Tentu aku semakin betah tinggal disini. Ada teman
curhat, ada teman memecahkan masalah anak, ada teman makan, dan ada teman
nongkrong di mushola. Hari-hariku sudah tidak sesunyi dahulu. Disini pun aku
jadi semakin rajin tilawah, kadang
satu bulan aku bisa sekali khatam.
Selain itu, Mbak Dhini memotivasiku untuk terus menambah hafalan Al Qur’an.
Alhamdulillah, meskipun lambat aku sudah bisa mnghafal 1,5 juz saat itu.
Tahun ini aku disibukkan dengan
pengambilan ijazah anak-anak yang sudah lulus dari SMP. Sebelum ijazah diambil
oleh pemiliknya, aku harus melayani cap tiga jari di ijazah satu per satu, baik
ikhwan maupun akhwat. Aku pun juga harus memilah-milah sebelum ijazah diserahkan
ke pemiliknya, karena syarat pengambilan ijazah harus lunas administrasi. Ribet
bukan? Memang sangat ribet prosesnya, tapi nasihat bapak masih terngiang,
dijalani, dinikmati, dan disyukuri. insyaAllah berkah di kemudian hari.
Aku sangat menikmati pekerjaanku.
Satu tahun yang lalu setelah aku menabung selama dua tahun bekerja, alhamdulillah
aku bisa melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Sukoharjo. Sebisa
mungkin, kuliahku tidak mengganggu aktivitasku di kantor. Aku memang lebih
sibuk dari yang dahulu. Selain melayani pembayaran dan persuratan, aku diminta
mengerjakan sebuah aplikasi offline
yang memuat seluruh data sekolah, baik data sekolah, data guru, data siswa, dan
data sarpras. Aplikasi itu disebut Dapodik. Aku baca di salah satu situs di
internet, banyak yang mengatakan bahwa aplikasi tersebut sangat sulit. Namun
ternyata pengerjaannya sangat mudah sebenarnya, yang sulit itu jika kita harus
melakukan sinkronisasi data secara online,
bisanya hanya bisa sinkronisasi data di waktu dini hari. Pernah waktu itu saat
sudah mendekati deadline cut off BOS,
aku menunggu proses sinkronisasi sampai pagi hari. Tidurpun hanya beberapa jam
saja. Tapi tak apalah, dalam Qur’an surah Al Insyirah ayat 5 dan 6 disebutkan bahwa
setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Suatu hari ada sebuah masalah yang menyadarkanku
untuk terus membenahi diri. Masalah itu bermula saat ada salah satu alumni SMP
tempatku bekerja yang ingin mengambil ijazah. Setelah aku mengecek data
administrasi siswa, ternyata siswa tersebut masih memiliki tunggakan sekitar Rp
6.500.000,00. Bukan jumlah yang kecil. Sebelum orang tua siswa tersebut datang
ke sekolah aku menghubugi orang tua siswa itu terkait dengan kekurangan
administrasi. Aku terkejut, Ayahnya mengatakan bahwa uang SPP selalu dititipkan
anaknya setiap bulan. Setelah menutup telepon,aku bergumam, “semoga ini bukan
pertanda buruk”.
Hari Rabu, orang tua siswa tersebut
datang ke sekolah menceritakan perihal uang SPP yang selalu dititipkan anaknya
tiap bulannya. Yang membuat aku sangat terkejut adalah anaknya mengatakan jika
uang SPP dititipkan ke Ustadah Nevita dan kuitansinya belum diberikan ke anak
tersebut. Padahal aku ingat betul, aku tidak pernah serupiah pun menerima uang dari
anak tersebut. Ingin menangis rasanya, tapi ku coba untuk menahan muara yang
hampir pecah. Bagaimana tidak? Jika aku harus mengganti, gajiku enam bulan
tidak mungkin cukup untuk melunasi kekurangan administrasi tersebut. Apalagi
aku juga harus menabung untuk biaya kuliah. “Ya Allah, cobaan apalagi ini?
Kuatkan aku.” doaku.
Hari itu penyelesaian mengenai masalah
tersebut belum terselesaikan. Aku pun tetap keukeuh,
aku tidak mau disalahkan, karena aku memang tidak pernah menerima uang
tersebut. Aku meminta solusi ke kepala Tata Usaha, bagaimana aku harus
menjelaskan dengan bukti yang bisa diterima orang tuanya? Aku ingat, aku masih
memiliki kontak BBM beberapa temannya. Ku coba bertanya ke salah satu teman
anak tersebut, Salma namanya. Ia mengatakan bahwa Azizah memang sering jajan
dengan membayar uang Rp 50.000,00. Dia juga sering mentraktir temannya. Bukti screenshoot dari hasil chattinganku dengan Salma akan aku jadikan
sebagai bukti.
Hari yang dinanti pun tiba. Kita pun
berkumpul di ruang kepala sekolah ditemani guru BK senior, kepala sekolah, dan
juga pemimpin pondok pesantren. Berbagai negosiasi pun dilakukan, aku pun
menyerahkan bukti yang sudah aku siapkan. Alhamdulilah akhirnya dengan bukti
yang aku sampaikan, diperkuat lagi dengan penjelasan dari guru BK senior, orang
tua Azizah mau melunasi kekurangan administrasi tersebut. Beliau pun meminta
maaf kepadaku.
Hatiku pun lega. Satu masalah teratasi.
Aku pun berharap bisa bertemu dengan Azizah jika nanti dia datang untuk
mengambil ijazah. Namun harapanku sirna, teryata anak tersebut menghindariku.
Dia mengambil ijazah saat di hari libur kerja, sehingga ia berhasil tidak
bertemu denganku. Padahal jika aku bertemu dengannya, aku pun tidak mungkin
memarahinya. Aku hanya ingin bertanya mengapa dia bisa memfitnahku seperti itu.
Tapi ya sudahlah, aku pun bisa lebih hemat energi. Di satu sisi aku juga takut
jika nanti bertemu dengannya aku tidak bisa mengontrol emosi.
Pengalaman ini merupakan satu
pengalaman yang sulit untuk aku lupakan, meskipun aku sudah berusaha untuk
memaafkan Azizah. Namun dengan adanya pengalaman ini, aku bertekad untuk lebih
selektif menerima titipan uang. Dengan adanya kesalahpahaman ini, aku pun
menyadari mungkin ada banyak ibadah sunnah yang aku tinggalkan. Oleh karena itu
mulai saat itu aku kembali lagi mengaktifkan sholat dhuha, sholat tahajud, dan
juga lebih banyak sedekah. Aku pun lebih sering membersamai anak-anak untuk
sholat berjamaah di mushola putri di sela-sela kesibukanku. Dalam sholatku aku
selalu berdoa, semoga aku dihindarkan dari fitnah, terutama fitnah dunia.
Karena fitnah memang terasa sangat menyakitkan. Sudah bisa dibayangkan tentunya
jika memang aku benar-benar terbukti mengambil uang yang bukan menjadi hakku. Selain
timbul rasa malu, tentu aku juga harus mempertanggungjawabkan perbuatanku di
akhirat nanti.
Diam-diam aku berdoa kepada Allah,
supaya aku bisa dilengserkan dari jabatan bendahara. Dan alhamdulillah akhir
tahun 2014 ada seorang karyawan baru yang menggantikan posisiku saat itu. Aku
makin bersyukur kepada Allah. Aku pun hanya ditugaskan di bagian administrasi
persuratan dan operator sekolah. Lebih bahagianya lagi, setelah aku memasuki
semester 7 di kampus, aku diminta membantu mengajar. Pengalaman yang pahit akan
menghasilkan sebuah hikmah yang baik. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang
engkau dustakan?
Komentar
Posting Komentar