Namaku Raiis Taajuddiin Shaalih, dari
kecil aku dipanggil Rois. Sekarang aku sudah duduk di kelas tiga SD. Kata abi,
nama Raiis disematkan di namaku agar nanti kelak aku menjadi anak yang kaya dan
dermawan. Aamiin.
Pagi ini begitu cerah, mentari mulai
mengintip dari balik pepohonan rindang. Hujan tadi malam yang sempat mengguyur desa
dengan derasnya, kini meninggalkan sisa-sisa lukisan air di halaman rumah.
Tetesan embun pun masih bergelayut manja di pucuk-pucuk daun. Kuintip dari
jendela kamar, kupu-kupu berwarna kuning masih beterbangan riang diantara
pohon-pohon cendana. Harum aroma tanah masih bisa kucium baunya. Aku suka
berdiri di depan jendela kamar di pagi hari, karena dari situ aku bisa
merasakan hangatnya sinar matahari. Kata ummi, sinar matahari di pagi hari itu
baik untuk tubuh, karena mengandung vitamin D.
“Adik cepat sarapan, nanti telat lho
pergi ke sekolahnya.” Suara ummi membuyarkan lamunanku. Aku bergegas
menghampiri ummi yang ada di dapur. Ku tutup jendela kamar. Tak lupa ku bawa
tas dan sepatuku, agar nanti aku tidak perlu kembali lagi ke kamar.
Menu pagi ini adalah nasi goreng.
Kesukaanku dan abi. Bedanya, abi lebih suka nasi goreng pedas, dan aku tidak
pedas. Nasi goreng ummi adalah nasi goreng teristimewa, selain ada ceplok
telurnya, juga ada beberapa irisan wortel, kol, daun sledri dan juga taburan
bawang goreng di atasnya. Nikmat deh, kalau makan masakannya ummi.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul
setengah 7, saatnya aku berangkat ke sekolah. Setiap hari aku selalu diantar
ummi dan abi, karena sekolahku satu arah dengan tempat bekerja ummi dan abi.
Pulang pun juga sama, dijemput ummi dan abi. Kadang kalau abi sibuk, ummi yang
jemput. Aku suka dijemput ummi, apalagi kalau naik mini bus. Rasanya asyik,
berbaur dengan beberapa penumpang sambil mendengarkan teriakan dari Pak
Kondektur. “Ngadirojo…Ngadirojo.” Teriaknya sambil menawarkan kepada penumpang
yang berdiri di tepi jalan.
Hari ini hari Jumat, kebetulan di
sekolahku melaksanakan kegiatan Jumat Bersih, jadi tidak ada Kegiatan Belajar
Mengajar. Sekolah pun dipulangkan pukul 10.00 WIB. Di depan pintu gerbang, Ummi
sudah melambaikan tangannya. Aku pun bergegas untuk menghampiri Ummi.
“Assalamu’alaikum Ummi.” Sapaku lembut
ke Ummi sambil kucium tangannya.
“Wa’alaikumsalam anak sholihnya
Ummi.” Sapa Ummi kepadaku.
Ummipun membalas dengan pelukan
hangat sambil mengelus lembut kepalaku. Aku ceritakan berbagai pengalamanku di
sekolah tadi. Dari membersihkan kelas, membersihkan kamar mandi, membersihkan
halaman, sampai menanam beberapa pot tanaman apotik hidup. Ummi mengajakku
untuk naik mini bus ke rumah, karena abi masih ada jam mengajar di sekolah.
Di tengah perjalanan, aku kembali
bercerita tentang kegiatan di sekolah tadi.
“Oiya, Um. Tadi di sekolah aku terpeleset
di kamar mandi. Makanya baju olahragaku kotor.”
“Ada yang sakit, Nak?” Tanya Ummi.
“Tidak Um.” Jawabku sambil
menggelengkan kepala.
Ummi pun hanya terdiam, sambil
mengamati HPnya. Mungkin ada pesan dari Abi. Aku juga ikut mengamati
pemandangan dari balik jendela mini bus. Tak terasa, sampailah kita di
perempatan gang. Kita pun turun dari bus, Ummi membayar Pak Kondektur dengan
satu lembar uang sepuluh ribuan. Kami hanya berjalan kaki untuk menuju rumah. Ummi
menggandeng tanganku.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya kami
sudah sampai di rumah. Ummi memintaku untuk bergegas membersihkan diri dan
berganti pakaian, agar aku tidak terlambat ke masjid untuk mengikuti sholat
Jumat. Setelah selesai berdandan dan makan siang, aku pun berangkat ke masjid
dengan bersepeda. Ku kayuh sepedaku cepat, agar aku bisa mendapatkan shaf yang terdepan. Abi pernah bilang,
kalau kita bersegera ke masjid dan mendapatkan shaf pertama, kita akan mendapatkan unta. Orang tuaku memang sudah
membiasakanku untuk selalu melaksanakan sholat, bahkan dari aku masih kecil. Tiba-tiba
tali sandalku lepas. Karena aku tidak mau ketinggalan sholat, kubuang sandalku
di tepi jalan. Tak apalah tidak pakai sandal, karena kakiku yang kotor nanti
akan terbasuh dan kembali bersih oleh air wudhu.
Tak terasa sholat Jumatpun selesai.
Saatnya aku kembali ke rumah, sebelum Abi pulang. Ketika aku menuju pintu
masjid, Pak Ahmad memanggilku.
“Raiis, hari Ahad jangan lupa ikut
lomba Adzan ya, Bapak yakin di FASI (Festifal Anak Sholeh Indonesia) kali ini,
kamu pasti juara.” Kata Pak Ahmad.
“Aamiin. Siap Pak, insyaAllah saya
berangkat.” Jawabku.
“Jangan lupa Abi dan Ummimu diminta
mengantar ya, karena Bapak menjadi juri, jadi tidak bisa mengantar kamu.”
“Iya, nanti saya sampaikan Ummi Pak.
Raiis pamit dulu ya Pak, assalamu’alaikum.” Jawabku sambal mencium tangan Pak
Ahmad.
Aku langsung menuju tempat dimana
sepedaku kuparkirkan tadi. Ku lihat di rak sepatu ada satu sandal disana dan
ketika kucoba sandal itu pas di kakiku. Ku pikir tidak ada salahnya aku
meminjam sandal ini sebentar. Nanti akan kukembalikan lagi saat sholat maghrib.
Ku kayuh sepedaku menuju rumah. Di teras rumah, ummi dan abi sedang duduk.
Kelihatannya abi baru saja tiba.
“Assalamu’alaikum Ummi, Abi.” Teriakku
menuju ke pangkuan Ummi.
“Lho, Nak. Itu sandal siapa? Kok
beda?” Tanya Ummi.
“Tadi sandal Raiis copot Mi, terus
Raiis buang di tepi jalan. Pas pulangnya, Raiis nemu sandal ini di rak. Raiis
nggak nyuri kok mi, Raiis hanya pinjam sebentar. Nanti pas sholat maghrib ku
kembalikan lagi.” Ceritaku kepada ummi dan abi.
“Sini sayang duduk dekat abi.”
Akupun menuju pangkuan abi. Sambil
mencium lembut kepalaku, abi memberikan sebuah nasihat.
“Adik mau masuk surga kan?”
Ku anggukkan kepalaku. Aku takut
melihat wajah abi. Aku takut abi marah.
“Memakai barang milik orang lain
tanpa meminta ijin terlebih dahulu itu disebut ghosob. Ghosob itu hampir
sama dengan mencuri. Mencuri itu dosa, kalau dosa pasti masuk neraka. Kalau
adik masuk neraka, nanti kita tidak akan berkumpul di surga. Adik mau sendirian di neraka?” Jelas Abi.
“Gak mau, Bi. Adik maunya masuk surga
sama Ummi, sama Abi.” Jawabku sambil melihat ummi dan abi.
“Berarti kalau Adik ingin masuk
surga, sandalnya segera dikembalikan dan besok tidak boleh mengulangi lagi ya?
Ingat, ghosob itu …” Tanya Abi.
“Dosa..” Jawabku dan Ummi bersamaan.
Ummi menyubit hidungku tanda gemas. Akhirnya aku pamit, meminta ijin ummi dan
abi untuk mengembalikan sandal ke tempat semula. Aku berjanji di dalam hati tidak
akan mengulanginya kembali, kapanpun dan dimanapun.
Komentar
Posting Komentar